Pernahkah anda mencoba untuk diet namun tidak berhasil hanya gara-gara lapar mata. Pengennya sih stop ngemil tapi klo pas lagi ada orang jualan bakso lewat ato yang lainnya, mulai deh mulut berair.....!He...He...He...
Nah, untuk itu bacalah tulisan ini untuk memotivasi anda terhindar dari godaan yang menggangu program diet anda. Takutlah dan.....sadarlah karena ini juga demi kebaikan anda....! Mari kita menghargai diri kita dan menghargai anugerah pemberian-NYA dengan menjaga tubuh kita sehat dan bugar.
1. Langsing = panjang umur
Suatu penelitian menunjukkan bahwa kondisi kegemukan dapat memicu produksi hormon leptin dan estrogen, yaitu hormon yang mendorong perkembangan sel-sel abnormal yang mengarah pada tumor. Dengan menurunkan berat badan, Anda akan terhindar dari beberapa jenis kanker. Menurut suatu penelitian di University of Minnesota terhadap 22.000 wanita
selama 7 tahun, wanita overweight yang berhasil menurunkan bobotnya sekitar 10-15% dari berat badannya dapat menurunkan risiko terkena kanker payudara sebanyak 21%.
Kegemukan juga dapat menyebabkan hypertensi, diabetes, jantung dan stroke karena tersumbatnya aliran darah oleh lemak dan banyaknya bubur lemak LDL di beberapa organ vital kita. Apa jadinya klo jantung, lever, ginjal & pankreas kita jebol gara-gara kegemukan, rasanya seperti hidup segan matipun tak mau.
Para peneliti dari Joslin Diabetes Center di Boston menemukan bahwa gejala diabetes berkurang ketika 24 orang yang rata-rata mengalami kelebihan 10-25 kg, kehilangan sekitar 7% dari berat badannya semula. Pada penderita diabetes, gangguan pada fungsi insulin juga dapat mengakibatkan gangguan pada metabolisme lemak (dislipidemia) . Ini dapat dilihat dari peningkatan kadar LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL (kolesterol baik). Keadaan ini dapat menyebabkan timbulkan PLAK di pembuluh darah (arterosklerosis) yang menyebabkan diameter pembuluh darah mengecil. Buntutnya, risiko penyakit jantung koroner dan stroke meningkat. Jika kita langsing, bisa memperpanjang hidup kita secara ilmu medis.
2. Langsing = kuat, bugar dan berenergi
Kegemukan bikin susah jalan, baru jalan 5 menit kaki udah terasa pegel dan napas ngos-ngosan. Klo dah punya cucu ato keponakan bisa-bisa gak kuat nggendong lama-lama. Bagi yang laki-laki mau kerja lembur ato olahraga malam gak bisa tahan lama, baru dicelupin eh......dah keluar capeeeeeek deeeeeh...!!!! Bayangkan jika perut anda besar kemudian menindih istri anda, apa tidak takut istri anda kena penyakit sesak napas...?
Menurut para peneliti dari Universitas Wake Forest, mereka yang memiliki ukuran lingkar pinggang dan pinggul diatas 75 cm akan mengalami penurunan kekuatan otot. Akibatnya, mereka tak lagi memiliki energi yang cukup untuk melakukan berbagai aktivitas. Ayo, turunkan berat badan sekarang supaya anda punya cukup energi untuk tampil aktif, termasuk sibuk mengurus kerjaan kantor dan kerjaan rumah tanpa terlihat loyo. Biasanya, orang langsing memang tampak lebih gesit kan ?
3. Langsing = Pede
Sering kali saya bertemu dengan orang yang mengalami kegemukan lalu kemudian saya memberikan brosur tentang info sehat dan sebagian dari mereka merasa dilecehkan padahal maksud saya adalah membantu solusi untuk untuk hidup sehat. kebanyakan orang gemuk akan mengalami rasa minder dan kurang pede yang mengakibatkan mereka bertingkah sedikit overakting menanggapi sesuatu karena segala hal yang berhubungan dengan kegemukan langsung mereka tanggapi dengan pikiran NEGATIF. Mereka sebenarnya sadar namun tidak ada motivasi yang kuat untuk bisa membuat mereka mau berubah dan mencari solusi. Hal ini sangat bertolak belakang jika kita memberi informasi tentang kecantikan / info sehat kepada orang langsing, kecenderungan dari mereka adalah tersenyum dan menanggapi dengan positif. Hal itu bisa dimaklumi karena mereka sangat PeDe dengan badan mereka, sesuatu yang tidak kita jumpai pada orang gemuk. Kesimpulannya, Kegemukan bisa membuat kita menjadi orang dengan pola pikir NEGATIF.
4. Langsing = bebas beli baju apa aja dan dimana aja...!
Ingin pakai baju yang sedikit lebih ketat, tapi malu dengan timbunan lemak perut yang tercetak di baju? Mau pakai baju longgar, nanti dibilang ketinggalan model & hamil tidak lahir-lahir. Serba salah sih...Kalau langsing, Anda nggak perlu bingung-bingung lagi. Pakai baju model apa aja , Anda tak perlu repot menyembunyikan deposit lemak di perut! yuuuukk..... Anda juga bisa beli baju dimana aja dengan ukuran normal. Klo kita langsing, lebih pede jalan-jalan di mal...yuuukk.
5. Langsing = lutut awet terjaga
Boro-boro pake sepatu cantik atau hak tinggi, kamu bisa lho kesulitan berjalan atau bergerak gara-gara gemuk. Soalnya bobot yang berlebih akan memberikan beban yang lebih besar kepada sendi lutut. Kalau dibiarkan, bisa menimbulkan radang pada sendi lutut (osteoarthritis) . Gejalanya antara lain, nyeri pada sendi lutut lalu bisa juga diikuti dengan pembengkakan.
Bila sudah parah, sendi menjadi kaku dan bisa juga kesulitan untuk berjalan.
Penelitian di Centers For Disease Control & Prevention menyebutkan bahwa peningkatan berat badan akan meningkatkan risiko radang pada sendi lutut sebesar 10-15% pada wanita dan 5-10% pada pria. Ibu-ibu usia > 60 tahun yang menderita kegemukan sangat rentan terhadap permasalahan lulut. Sebagian besar dari mereka akan mengalami kesulitan untuk bangun dari duduk dan ketika sholat.So....Langsing bisa bikin kita sholat dengan khusyu'
6. Langsing = hidup sejahtera
Kegemukan bisa mengundang penyakit. Mulai dari yang sepele seperti nyeri sendi, hingga yang kelas berat seperti : hipertensi, diabetes, serangan jantung, stroke dan beberapa jenis kanker. Jika Anda menderita penyakit tersebut, beban moralnya sangat tinggi. Selain nyusahin keluarga, biaya yang dikeluarkan untuk sembuh pun pasti banyak terkuras. So guys,... cobalah Anda ikuti saran-saran diatas tadi, turunkan berat badan Anda 5-10%, Insya Allah Anda akan menghemat pengeluaran untuk berobat selama satu tahun penuh bahkan lebih. Efeknya kitya bisa menggunakan anggaran kita untuk hal lainnya yang lebih bermanfaat terutama untuk anak-anak kita. Klo kita langsing....bisa lebih berhemat, tul gak....??
7. Langsing = napas lancar
Kelebihan lemak juga dapat menekan saluran pernafasan yang bisa menyebabkan kelainan sleep apnea, yaitu terhentinya nafas saat tidur. Gangguan seperti ini, lama kelamaan dapat menyebabkan gagal jantung dan bisa berujung pada kematian. Aaawwww..... IIhhhh Sereeeem !
Fakta tersebut juga didukung oleh sebuah studi yang dilakukan di Universitas Ottawa terhadap 50 wanita penderita obesitas. Ketika mereka mengalami penurunan bobot badan sebesar 10%, fungsi paru-parunya akan mengalami peningkatan sebesar 5% Dan ketika mereka kehilangan 25% dari bobotnya semula, kekuatan bernafasny akan meningkat 10%. So guys... ngorok itu bisa jadi karena kegemukan lhooo...
8. Langsing = hormonal jadi normal
Hal ini bisa ditandai dengan siklus haid tidak teratur, kista endometriosis, dan bahkan SULIT HAMIL ! Ini pertanda bahwa tubuh anda mempunyai ketidakseimbangan hormon. Pada wanita dewasa, ketidakseimbangan hormon biasanya terjadi karena kegemukan. Yang paling ekstrim, bisa mengakibatkan hiperandrogenisme --> suatu situasi dimana jumlah hormon androgen meningkat. Akibatnya juga, terjadi hirsutisme (tanda-tanda maskulin), seperti berjerawat, pertumbuhan bulu di wajah dan badan, dan beberapa mengalami perubahan suara menjadi lebih berat.
Sumber: www.langsingdiet.com
Selasa, 23 Maret 2010
Sabtu, 20 Maret 2010
Hasil Pengumpulan Data: Studi 2
1.Emosi Positif
a.Senang. Emosi ini dialami anak pada saat berada dalam situasi yang menyenangkan, misalnya berada di pasar hewan, digelitik, dipeluk, berada di dalam ruangan sambil mendengarkan musik yang menenagkan (musik klasik). Di samping itu, emosi senang ditunjukkan juga oleh anak-anak autis pada benda-benda yang disukainya, misalnya benda panjang (stick) seakan-akan benda tersebut adalah stick biola atau sejenisnya, buku yang memuat gambar hewan, puzzle. Beberapa kegiatan yang disukai seperti merangkai bentuk (meronce), mewarnai (dengan crayon dengan warna tertentu yang disukai), menulis, memberhentikan mobil, menonton TV dengan jingle iklan tertentu juga seringkali menjadi stimulus yang menyenangkan bagi anak-anak autistik ini.
Emosi senang juga diperlihatkan oleh anak-anak autis pada saat mereka dipuji oleh orang tua atau guru karena berhasil melakukan tugas tertentu, dimanjakan (diperlihatkan orang tua dengan memeluk dan mencium anak), diajak bercanda, menikmati sesuatu yang sedang dikerjakan, dan merasa bebas dari sesuatu, misalnya sekolah, tugas, atau sesi terapi.
2.Emosi negatif
a.Marah. Emosi ini dialami anak-anak autistik disebabkan karena jenuh dalam belajar, dilarang melakukan kegiatan tertentu, melakukan kegitan yang tidak disukai, atau bila keinginan tidak terpenuhi. Stimulus lain yang juga menimbulkan emosi marah ini adalah terlalu banyak instruksi yang membingungkan, interupsi pada saat anak-anak autistik sedang asyik melakukan sesuatu aktivitas, dan dilarang melakukan sesuatu.
Emosi yang diungkapkan anak-anak autistik pada saat mengalami kegiatan yang tidak disukai ini seringkali sulit untuk dikategorikan. Hal ini disebabkan karena anak-anak autistik tidak dapat menyampaikan keinginan, tidak dapat memilih respon apa untuk menjawab stimulus, dan adanya proses belajar (meniru).
b.Kecewa. Emosi kecewa ini juga dialami anak-anak autsitik walaupun agak sulit untuk membedakan dengan emosi sedih. Kedua emosi ini diperlihatkan pada saat anak-anak autistik ditinggal pergi orangtua, dilarang mengerjakan sesuatu, dan keinginannya tidak dipenuhi.
c.Kangen. Sebagian besar ibu mengemukakan bahwa anak-anak mereka dapat mengalami emosi kangen pada saat ditinggal pergi oleh orangtua ke luar kota.
d.Takut. Emosi ini dialami anak karena dimarahi, berada di keramaian, dan berada di tempat gelap.
e.Kesal karena tidak menyukai sesuatu.
f.Cemas: Karena akan ditinggal orangtua, dan diperintah untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan hal yang pernah memiliki kenangan/pengalaman buruk dengannya.
g.Merasa bersalah: Karena melanggar larangan yang sudah ditetapkan, tidak menuruti perintah.
h.Sedih, menangis karena marah
Kejadian yang menjadi stimulus emosi Stimulus :
Orang lain dimarahi tepuk tangan (senang)
Berada dikolam renang menjadi takut
Berperilaku steriotip menjadi senang
Respon emosi
1.Marah
Respon emosi marah : Memukul, menonjok, berputar-putar, dan berteriak. Catatan : Anak-anak autis yang verbalnya cukup baik kalau marah memunculkan kemarahan yang berlebihan.
2.Senang
Respon emosi senang: berteriak hore, dan mencium benda yang disukai. Catatan : Bisa merasakan senang, ada yang menarik dia senang berteriak hore. Bercerita lewat gambar, misalnya saat menggambar mereka dapat mengungkapkan lewat cara masing-masing.
3.Takut
Respon emosi takut: Mogok melakukan kegiatan, menangis, menjauh, dan berperilaku steriotip.
Catatan : Sedih atau kecewa susah dibedakan, tergantung sebabnya (sebelumnya ada persoalan apa). Salah satu orangtua anak autis (bu Eti) tidak yakin anak autis dapat merasakan sedih karena anak autis tidak begitu memahami prinsip sebab akibat. Emosi yang lebih sering muncul adalah marah dan kecewa.
Respon emosi 1.Kecewa - Respon : Murung, tidak mau makan, melempar-lempar piring, wajah melas, nangis sambil menyanyi tapi sedih banget, ekspresi bingung, teriak-teriak, diam, tidak mau melakukan apapun walaupun dijanjikan reward, tidak mau belajar. 2.Cemas - Respon : Diare, muntah, murung, diam, keringat dingin, lari menjauh.
3.Senang
- Respon : Senyum-senyum, mengeluarkan bunyi-bunyi, bergumam, menyanyi, membelai, mengelus, memeluk, mencium.
4.Takut
- Respon : Mengkeret, wajahnya mengerut, berteriak-teriak.
5.Marah
- Respon : Gregetan seperti mau melawan, berteriak ”tidak!”, menyakiti diri sendiri, menangis.
6.Kesal
- Respon : Menggigit, menjambak, membanting barang ke lantai, mengangkat barang dengan satu tangan.
7.Merasa bersalah
- Respon : Berteriak ”tidak” sambil membuang coklat kemudian merayu terapis, berdiri spontan kemudian memeluk guru sambil bertanya apakah si guru marah.
8.Kangen
- Respon : Menangis sampai sesak.
9.Sedih - Respon : Murung, tidak mau makan, melempar-lempar piring.
Sumber: Neila Ramdhani
Retty Thiomina
Bambang Nur Prastowo
Sri Suning Kusumawardhani
a.Senang. Emosi ini dialami anak pada saat berada dalam situasi yang menyenangkan, misalnya berada di pasar hewan, digelitik, dipeluk, berada di dalam ruangan sambil mendengarkan musik yang menenagkan (musik klasik). Di samping itu, emosi senang ditunjukkan juga oleh anak-anak autis pada benda-benda yang disukainya, misalnya benda panjang (stick) seakan-akan benda tersebut adalah stick biola atau sejenisnya, buku yang memuat gambar hewan, puzzle. Beberapa kegiatan yang disukai seperti merangkai bentuk (meronce), mewarnai (dengan crayon dengan warna tertentu yang disukai), menulis, memberhentikan mobil, menonton TV dengan jingle iklan tertentu juga seringkali menjadi stimulus yang menyenangkan bagi anak-anak autistik ini.
Emosi senang juga diperlihatkan oleh anak-anak autis pada saat mereka dipuji oleh orang tua atau guru karena berhasil melakukan tugas tertentu, dimanjakan (diperlihatkan orang tua dengan memeluk dan mencium anak), diajak bercanda, menikmati sesuatu yang sedang dikerjakan, dan merasa bebas dari sesuatu, misalnya sekolah, tugas, atau sesi terapi.
2.Emosi negatif
a.Marah. Emosi ini dialami anak-anak autistik disebabkan karena jenuh dalam belajar, dilarang melakukan kegiatan tertentu, melakukan kegitan yang tidak disukai, atau bila keinginan tidak terpenuhi. Stimulus lain yang juga menimbulkan emosi marah ini adalah terlalu banyak instruksi yang membingungkan, interupsi pada saat anak-anak autistik sedang asyik melakukan sesuatu aktivitas, dan dilarang melakukan sesuatu.
Emosi yang diungkapkan anak-anak autistik pada saat mengalami kegiatan yang tidak disukai ini seringkali sulit untuk dikategorikan. Hal ini disebabkan karena anak-anak autistik tidak dapat menyampaikan keinginan, tidak dapat memilih respon apa untuk menjawab stimulus, dan adanya proses belajar (meniru).
b.Kecewa. Emosi kecewa ini juga dialami anak-anak autsitik walaupun agak sulit untuk membedakan dengan emosi sedih. Kedua emosi ini diperlihatkan pada saat anak-anak autistik ditinggal pergi orangtua, dilarang mengerjakan sesuatu, dan keinginannya tidak dipenuhi.
c.Kangen. Sebagian besar ibu mengemukakan bahwa anak-anak mereka dapat mengalami emosi kangen pada saat ditinggal pergi oleh orangtua ke luar kota.
d.Takut. Emosi ini dialami anak karena dimarahi, berada di keramaian, dan berada di tempat gelap.
e.Kesal karena tidak menyukai sesuatu.
f.Cemas: Karena akan ditinggal orangtua, dan diperintah untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan hal yang pernah memiliki kenangan/pengalaman buruk dengannya.
g.Merasa bersalah: Karena melanggar larangan yang sudah ditetapkan, tidak menuruti perintah.
h.Sedih, menangis karena marah
Kejadian yang menjadi stimulus emosi Stimulus :
Orang lain dimarahi tepuk tangan (senang)
Berada dikolam renang menjadi takut
Berperilaku steriotip menjadi senang
Respon emosi
1.Marah
Respon emosi marah : Memukul, menonjok, berputar-putar, dan berteriak. Catatan : Anak-anak autis yang verbalnya cukup baik kalau marah memunculkan kemarahan yang berlebihan.
2.Senang
Respon emosi senang: berteriak hore, dan mencium benda yang disukai. Catatan : Bisa merasakan senang, ada yang menarik dia senang berteriak hore. Bercerita lewat gambar, misalnya saat menggambar mereka dapat mengungkapkan lewat cara masing-masing.
3.Takut
Respon emosi takut: Mogok melakukan kegiatan, menangis, menjauh, dan berperilaku steriotip.
Catatan : Sedih atau kecewa susah dibedakan, tergantung sebabnya (sebelumnya ada persoalan apa). Salah satu orangtua anak autis (bu Eti) tidak yakin anak autis dapat merasakan sedih karena anak autis tidak begitu memahami prinsip sebab akibat. Emosi yang lebih sering muncul adalah marah dan kecewa.
Respon emosi 1.Kecewa - Respon : Murung, tidak mau makan, melempar-lempar piring, wajah melas, nangis sambil menyanyi tapi sedih banget, ekspresi bingung, teriak-teriak, diam, tidak mau melakukan apapun walaupun dijanjikan reward, tidak mau belajar. 2.Cemas - Respon : Diare, muntah, murung, diam, keringat dingin, lari menjauh.
3.Senang
- Respon : Senyum-senyum, mengeluarkan bunyi-bunyi, bergumam, menyanyi, membelai, mengelus, memeluk, mencium.
4.Takut
- Respon : Mengkeret, wajahnya mengerut, berteriak-teriak.
5.Marah
- Respon : Gregetan seperti mau melawan, berteriak ”tidak!”, menyakiti diri sendiri, menangis.
6.Kesal
- Respon : Menggigit, menjambak, membanting barang ke lantai, mengangkat barang dengan satu tangan.
7.Merasa bersalah
- Respon : Berteriak ”tidak” sambil membuang coklat kemudian merayu terapis, berdiri spontan kemudian memeluk guru sambil bertanya apakah si guru marah.
8.Kangen
- Respon : Menangis sampai sesak.
9.Sedih - Respon : Murung, tidak mau makan, melempar-lempar piring.
Sumber: Neila Ramdhani
Retty Thiomina
Bambang Nur Prastowo
Sri Suning Kusumawardhani
Hasil Pengumpulan Data: Studi 1
Hasil Pengumpulan Data
Studi 1
1.Sumber Stimulus dan Tindakan yang Merefleksikan Emosi pada Anak Autis
a.Emosi Positif Berdasarkan hasil penelitian didapatkan empat macam emosi positif yang terlihat dari tindakan-tindakan emosional anak autis dalam merespon stimulus tertentu. Emosi tersebut adalah senang, sayang, rindu, dan malu.
1.Senang, sumber stimulus yang menjadi penyebab emosi ini adalah benda/objek, situasi, dan interaksi dengan manusia. Dari ketiga sumber stimulus di atas benda/objek dan situasi/kegiatan adalah stimulus yang cenderung menjadi penyebab emosi ini. Suatu stimulus lain yang memunculkan tindakan yang merefleksikan emosi senang adalah pada saat kedua subjek sedang sendirian dan pada saat diet makan tidak dipertahankan. Respon dari stimulus ini adalah tersenyum, tertawa, bergerak (berjalan mondar-mandir, meloncat, bertepuk tangan, berlari kesana-kemari, bergaya), mendekati sumber stimulus, mengambil benda dengan tangan sendiri atau menggunakan tangan orang lain, melihat dalam waktu lama, mengulangi melakukan kegiatan yang menyenangkan, mengutak-atik benda yang diminati, menutup telinga, dan bersenandung.
2.Sayang, berdasarkan data yang didapatkan sumber stimulus yang menjadi penyebab emosi ini muncul adalah orang dan benda. Kedua subjek menunjukkan rasa sayangnya kepada orang-orang terdekat mereka seperti ibu, terapis, dan pendamping. Terhadap benda, subjek pertama memperlihatkan rasa sayangnya pada boneka. Perasaan sayang yang ditunjukkan oleh orang lain kepada kedua subjekpun dapat diterima subjek. Tetapi bila stimulus rasa sayang itu berlebihan atau dirasa menganggu maka mereka akan menjadi marah dan menjadi tidak ingin disentuh. Respon dari stimulus ini adalah; mencium, memeluk, tersenyum, tertawa, memegang tangan, mendekati, mengajak main, bergerak (mondar-mandir, bergaya) di dekat orang yang disayang, dan melirik orang yang disayang. Terhadap benda yang disayangi tindakan subjek adalah; memeluk, mencium, boneka disisir, dibawa kemana pergi, dan bila tidak berada di tempatnya akan dicari sampai ketemu. Subjek pertama juga memperlihatkan respon membujuk orang yang memarahinya dengan cara memeluk dan mencium ketika orang tersebut memarahinya. Orang tersebut adalah orang-orang terdekatnya, seperti ibu, nenek, kakak perempuan, dan terapis.
3.Rindu, masing-masing subjek tinggal terpisah dengan orang tua. Ibu hanya mengunjungi subjek pada jadwal-jadwal tertentu. Emosi ini muncul berhubungan dengan dengan kehadiran ibu. Respon dari stimulus ini adalah; menangis diam-diam di tempat tidur, memanggil-manggil ibu, dan melamun. Ketika ibu hadir baik secara fisik maka subjek akan memeluk. Walupun pada kasus pertama, subjek biasanya perlu waktu untuk terbiasa dengan kehadiran ibu. Namun apabila berhubungan melalui pesawat telepon subjek pertama akan terlihat gembira dan mengajak ibu bernyanyi.
4.Malu, sama halnya dengan emosi rindu, perasaan malu tidak banyak diungkap pada literatur-literatur mengenai emosi pada anak autis. Namun apabila dibandingkan dengan respon anak normal terhadap emosi malu dapat dilihat bahwa emosi malu dimiliki oleh anak autis. Sumber stimulus adalah manusia, seperti terlihat pada saat ada orang yang memberi perhatian terhadap subjek maka akan muncul respon; tertawa, tersenyum memalingkan wajah, menunduk, mengalihkan pandangan, memegang orang lain, menjauh, berlari mondar-mandir, dan meloncat-loncat.
b.Emosi Negatif
1.Marah, sumber stimulus yang menjadi penyebab emosi ini adalah manusia dan situasi tertentu. Stimulus yang bersumber dari manusia yang memunculkan emosi ini adalah pada saat subjek dilarang melakukan kegiatan yang diinginkan, disuruh melakukan hal yang tidak disukai, hak milik dilanggar, dan tindakan/ucapan diralat orang lain. Stimulus yang memunculkan emosi marah yang terlihat pada subjek pertama tetapi tidak terlihat pada subjek kedua adalah diabaikan saat marah, saat subjek tidak menyelesaikan latihannya, dan dipeluk/digendong/dicium pada saat sedang melakukan kegiatan tertentu.. Selain itu stimulus berupa situasi yang menjadi pemicu emosi marah adalah pada saat ada keinginan atau kebutuhan subjek tidak terpenuhi. Kadang kala keinginan tersebut tidak mungkin terpenuhi, seperti ingin menghidupkan televisi pada saat listrik padam. Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa kadang kala penyebab kemarahan tidak jelas. Respon yang terlihat menyertai stimulus di atas yang menunjukkan emosi marah adalah; merengek, menjerit, berontak, tetap berusaha melakukan, penolakan verbal, menghindar, menendang dan mendorong, menarik orang, memelintir dan menggigit jari orang, membanting benda di dekatnya, mengejar orang, menangis, menghentakkan kaki, menepuk-nepuk tangan, dan berjalan mondar-mandir. Subjek pertama memunculkan tindakan seperti tidak ingin di dekati dan mendekati orang yang tidak mempedulikannya pada hari sebelumnya. Peneliti tidak melihat respon berupa temper tantrum, seperti menyakiti badan sendiri dan orang lain yang berlebihan terhadap stimulus yang memiliki muatan emosi marah selama penelitian berlangsung. Walupun kedua subjek memiliki riwayat tantrum yang sama sebelum penelitian berlangsung, seperti membanting badan, tidur di lantai, membenturkan kepala, memukul badan sendiri, mencubit, memelintir, memukul orang disekitarnya.
2.Takut, sumber stimulus yang menjadi penyebab munculnya emosi takut pada anak autis adalah manusia dan situasi/kegiatan tertentu. Sumber stimulus dari manusia seperti, dimarahi/dipukul, bertemu dengan orang yang pernah memarahi/memukul mereka dapat menjadi stimulus munculnya emosi ini. Stimulus seperti kepekaan berlebihan terhadap rangsangan, kegelapan, kesendirian, berada pada situasi yang dianggap menakutkan oleh mereka adalah termasuk sumber stimulus yang berasal dari situasi/kegiatan. Respon berupa tindakan yang memperlihatkan emosi takut adalah; menjerit lirih, berpaling dari orang yang memarahi (mencari perlindungan), menutup telinga, menarik orang yang berada di dekatnya, berontak, menghindar (menjauh), menggunakan tangan orang lain, menunduk, berjalan tergesa-gesa, berpegangan erat pada orang di dekatnya, menahan tubuh, menangis, dan memeluk orang lain, memukul meja.
3.Sedih, dalam kelompok emosi negatif emosi ini belum banyak dibahas pada literatur mengenai emosi anak autis. Namun berdasarkan hasil pengamatan peneliti menemukan bahwa kedua subjek dapat mengekspresikan perasaan sedih. Perasaan sedih muncul berkaitan dengan sosok ibu, apabila ibu belum datang mengunjungi maka mereka memperlihatkan perilaku seperti; melamun, menangis dalam diam, dan memanggil-manggil ibunya.
4.Terkejut, dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2002) terkejut merupakan emosi yang disebabkab kejadian yang datang secara tiba-tiba. Secara fisiologis orang yang terkejut anggota badannya akan menjadi kaku, sedangkan tindakan yang biasanya menyertainya adalah berlarian kesana-kemari. Berdasarkan hasil penelitian ini, emosi terkejut muncul pada saat kedua subjek ketahuan oleh orang lain sedang melakukan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan, seperti; makan makanan pantang dan mengambil barang tertentu. Kedua subjek dikagetkan oleh orang yang memergoki mereka sehingga mereka meresponnya dengan meletakkan benda yang diambil atau meninggalkan kegiatan yang dilarang, dan cepat-cepat menjauh.
Sumber: Neila Ramdhani
Retty Thiomina
Bambang Nur Prastowo
Sri Suning Kusumawardhani
Studi 1
1.Sumber Stimulus dan Tindakan yang Merefleksikan Emosi pada Anak Autis
a.Emosi Positif Berdasarkan hasil penelitian didapatkan empat macam emosi positif yang terlihat dari tindakan-tindakan emosional anak autis dalam merespon stimulus tertentu. Emosi tersebut adalah senang, sayang, rindu, dan malu.
1.Senang, sumber stimulus yang menjadi penyebab emosi ini adalah benda/objek, situasi, dan interaksi dengan manusia. Dari ketiga sumber stimulus di atas benda/objek dan situasi/kegiatan adalah stimulus yang cenderung menjadi penyebab emosi ini. Suatu stimulus lain yang memunculkan tindakan yang merefleksikan emosi senang adalah pada saat kedua subjek sedang sendirian dan pada saat diet makan tidak dipertahankan. Respon dari stimulus ini adalah tersenyum, tertawa, bergerak (berjalan mondar-mandir, meloncat, bertepuk tangan, berlari kesana-kemari, bergaya), mendekati sumber stimulus, mengambil benda dengan tangan sendiri atau menggunakan tangan orang lain, melihat dalam waktu lama, mengulangi melakukan kegiatan yang menyenangkan, mengutak-atik benda yang diminati, menutup telinga, dan bersenandung.
2.Sayang, berdasarkan data yang didapatkan sumber stimulus yang menjadi penyebab emosi ini muncul adalah orang dan benda. Kedua subjek menunjukkan rasa sayangnya kepada orang-orang terdekat mereka seperti ibu, terapis, dan pendamping. Terhadap benda, subjek pertama memperlihatkan rasa sayangnya pada boneka. Perasaan sayang yang ditunjukkan oleh orang lain kepada kedua subjekpun dapat diterima subjek. Tetapi bila stimulus rasa sayang itu berlebihan atau dirasa menganggu maka mereka akan menjadi marah dan menjadi tidak ingin disentuh. Respon dari stimulus ini adalah; mencium, memeluk, tersenyum, tertawa, memegang tangan, mendekati, mengajak main, bergerak (mondar-mandir, bergaya) di dekat orang yang disayang, dan melirik orang yang disayang. Terhadap benda yang disayangi tindakan subjek adalah; memeluk, mencium, boneka disisir, dibawa kemana pergi, dan bila tidak berada di tempatnya akan dicari sampai ketemu. Subjek pertama juga memperlihatkan respon membujuk orang yang memarahinya dengan cara memeluk dan mencium ketika orang tersebut memarahinya. Orang tersebut adalah orang-orang terdekatnya, seperti ibu, nenek, kakak perempuan, dan terapis.
3.Rindu, masing-masing subjek tinggal terpisah dengan orang tua. Ibu hanya mengunjungi subjek pada jadwal-jadwal tertentu. Emosi ini muncul berhubungan dengan dengan kehadiran ibu. Respon dari stimulus ini adalah; menangis diam-diam di tempat tidur, memanggil-manggil ibu, dan melamun. Ketika ibu hadir baik secara fisik maka subjek akan memeluk. Walupun pada kasus pertama, subjek biasanya perlu waktu untuk terbiasa dengan kehadiran ibu. Namun apabila berhubungan melalui pesawat telepon subjek pertama akan terlihat gembira dan mengajak ibu bernyanyi.
4.Malu, sama halnya dengan emosi rindu, perasaan malu tidak banyak diungkap pada literatur-literatur mengenai emosi pada anak autis. Namun apabila dibandingkan dengan respon anak normal terhadap emosi malu dapat dilihat bahwa emosi malu dimiliki oleh anak autis. Sumber stimulus adalah manusia, seperti terlihat pada saat ada orang yang memberi perhatian terhadap subjek maka akan muncul respon; tertawa, tersenyum memalingkan wajah, menunduk, mengalihkan pandangan, memegang orang lain, menjauh, berlari mondar-mandir, dan meloncat-loncat.
b.Emosi Negatif
1.Marah, sumber stimulus yang menjadi penyebab emosi ini adalah manusia dan situasi tertentu. Stimulus yang bersumber dari manusia yang memunculkan emosi ini adalah pada saat subjek dilarang melakukan kegiatan yang diinginkan, disuruh melakukan hal yang tidak disukai, hak milik dilanggar, dan tindakan/ucapan diralat orang lain. Stimulus yang memunculkan emosi marah yang terlihat pada subjek pertama tetapi tidak terlihat pada subjek kedua adalah diabaikan saat marah, saat subjek tidak menyelesaikan latihannya, dan dipeluk/digendong/dicium pada saat sedang melakukan kegiatan tertentu.. Selain itu stimulus berupa situasi yang menjadi pemicu emosi marah adalah pada saat ada keinginan atau kebutuhan subjek tidak terpenuhi. Kadang kala keinginan tersebut tidak mungkin terpenuhi, seperti ingin menghidupkan televisi pada saat listrik padam. Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa kadang kala penyebab kemarahan tidak jelas. Respon yang terlihat menyertai stimulus di atas yang menunjukkan emosi marah adalah; merengek, menjerit, berontak, tetap berusaha melakukan, penolakan verbal, menghindar, menendang dan mendorong, menarik orang, memelintir dan menggigit jari orang, membanting benda di dekatnya, mengejar orang, menangis, menghentakkan kaki, menepuk-nepuk tangan, dan berjalan mondar-mandir. Subjek pertama memunculkan tindakan seperti tidak ingin di dekati dan mendekati orang yang tidak mempedulikannya pada hari sebelumnya. Peneliti tidak melihat respon berupa temper tantrum, seperti menyakiti badan sendiri dan orang lain yang berlebihan terhadap stimulus yang memiliki muatan emosi marah selama penelitian berlangsung. Walupun kedua subjek memiliki riwayat tantrum yang sama sebelum penelitian berlangsung, seperti membanting badan, tidur di lantai, membenturkan kepala, memukul badan sendiri, mencubit, memelintir, memukul orang disekitarnya.
2.Takut, sumber stimulus yang menjadi penyebab munculnya emosi takut pada anak autis adalah manusia dan situasi/kegiatan tertentu. Sumber stimulus dari manusia seperti, dimarahi/dipukul, bertemu dengan orang yang pernah memarahi/memukul mereka dapat menjadi stimulus munculnya emosi ini. Stimulus seperti kepekaan berlebihan terhadap rangsangan, kegelapan, kesendirian, berada pada situasi yang dianggap menakutkan oleh mereka adalah termasuk sumber stimulus yang berasal dari situasi/kegiatan. Respon berupa tindakan yang memperlihatkan emosi takut adalah; menjerit lirih, berpaling dari orang yang memarahi (mencari perlindungan), menutup telinga, menarik orang yang berada di dekatnya, berontak, menghindar (menjauh), menggunakan tangan orang lain, menunduk, berjalan tergesa-gesa, berpegangan erat pada orang di dekatnya, menahan tubuh, menangis, dan memeluk orang lain, memukul meja.
3.Sedih, dalam kelompok emosi negatif emosi ini belum banyak dibahas pada literatur mengenai emosi anak autis. Namun berdasarkan hasil pengamatan peneliti menemukan bahwa kedua subjek dapat mengekspresikan perasaan sedih. Perasaan sedih muncul berkaitan dengan sosok ibu, apabila ibu belum datang mengunjungi maka mereka memperlihatkan perilaku seperti; melamun, menangis dalam diam, dan memanggil-manggil ibunya.
4.Terkejut, dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2002) terkejut merupakan emosi yang disebabkab kejadian yang datang secara tiba-tiba. Secara fisiologis orang yang terkejut anggota badannya akan menjadi kaku, sedangkan tindakan yang biasanya menyertainya adalah berlarian kesana-kemari. Berdasarkan hasil penelitian ini, emosi terkejut muncul pada saat kedua subjek ketahuan oleh orang lain sedang melakukan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan, seperti; makan makanan pantang dan mengambil barang tertentu. Kedua subjek dikagetkan oleh orang yang memergoki mereka sehingga mereka meresponnya dengan meletakkan benda yang diambil atau meninggalkan kegiatan yang dilarang, dan cepat-cepat menjauh.
Sumber: Neila Ramdhani
Retty Thiomina
Bambang Nur Prastowo
Sri Suning Kusumawardhani
Metode Penelitian
Metode Penelitian
1.Subjek penelitian
Subjek penelitian pada studi 1 terdiri dari 2 (dua) orang anak berusia 8 (delapan) tahun, jenis kelamin perempuan dan laki-laki. Kedua subjek mendapatkan terapi dari sekolah autis setelah didagnosis dokter mengalami gangguan autisme. Subjek penelitian pada studi 2 adalah 14 (empat belas) orang dewasa, 2 laki-laki dan 12 perempuan. Empat orang diantara mereka adalah orang tua anak-anak dengan autistik, 9 orang guru atau terapis dari lembaga pendidikan untuk anak-anak dengan autuistik, dan seorang kakak dari seorang anak autis.
2.Metode Pengumpulan Data
Metode yang diterapkan dalam pengambilan data pada studi 1 adalah observasi semi partisipatif dan wawancara semi terstruktur. Teknik pencatatan observasi dengan menggunakan paper and pencil gabungan dari running records dan spicemen description. Alat rekam audiovisual juga digunakan peneliti dalam observasi sebagai alat pencatatan pendukung. Teknik pencatatan wawancara menggunakan tape recorder. Dalam studi 1 ini observasi difokuskan kepada situasi, stimulus, dan reaksi emosi, dan aktivitas subjek pada waktu tertentu.
Pada studi 2, dilakukan dua diskusi kelompok terarah terhadap 14 orang partisipan. Kelompok pertama 6 orang, terdiri dari 5 orang guru sekolah khusus untuk anak-anak dengan autistik dan seorang ibu dari anak autis. Kelompok 2 terdiri dari 8 orang, mereka adalah 3 orang guru, seorang terapis, 3 orang tua, dan seorang kakak anak autis. Data diskusi direkam dengan audio tape di samping pencatatan langsung dengan komputer. Dalam studi 2 ini, data yang dikumpulkan adalah pernyataan orang-orang dewasa yang berhubungan langsung dengan anak-anak autistik, mengenai reaksi emosi yang dapat dikenali anak-anak autistik, stimulus dan situasi yang menimbulkan reaksi emosi tersebut, dan reaksi emosi yang dapat diekspresikan anak-anak autistik.
Sumber: Neila Ramdhani
Retty Thiomina
Bambang Nur Prastowo
Sri Suning Kusumawardhani
1.Subjek penelitian
Subjek penelitian pada studi 1 terdiri dari 2 (dua) orang anak berusia 8 (delapan) tahun, jenis kelamin perempuan dan laki-laki. Kedua subjek mendapatkan terapi dari sekolah autis setelah didagnosis dokter mengalami gangguan autisme. Subjek penelitian pada studi 2 adalah 14 (empat belas) orang dewasa, 2 laki-laki dan 12 perempuan. Empat orang diantara mereka adalah orang tua anak-anak dengan autistik, 9 orang guru atau terapis dari lembaga pendidikan untuk anak-anak dengan autuistik, dan seorang kakak dari seorang anak autis.
2.Metode Pengumpulan Data
Metode yang diterapkan dalam pengambilan data pada studi 1 adalah observasi semi partisipatif dan wawancara semi terstruktur. Teknik pencatatan observasi dengan menggunakan paper and pencil gabungan dari running records dan spicemen description. Alat rekam audiovisual juga digunakan peneliti dalam observasi sebagai alat pencatatan pendukung. Teknik pencatatan wawancara menggunakan tape recorder. Dalam studi 1 ini observasi difokuskan kepada situasi, stimulus, dan reaksi emosi, dan aktivitas subjek pada waktu tertentu.
Pada studi 2, dilakukan dua diskusi kelompok terarah terhadap 14 orang partisipan. Kelompok pertama 6 orang, terdiri dari 5 orang guru sekolah khusus untuk anak-anak dengan autistik dan seorang ibu dari anak autis. Kelompok 2 terdiri dari 8 orang, mereka adalah 3 orang guru, seorang terapis, 3 orang tua, dan seorang kakak anak autis. Data diskusi direkam dengan audio tape di samping pencatatan langsung dengan komputer. Dalam studi 2 ini, data yang dikumpulkan adalah pernyataan orang-orang dewasa yang berhubungan langsung dengan anak-anak autistik, mengenai reaksi emosi yang dapat dikenali anak-anak autistik, stimulus dan situasi yang menimbulkan reaksi emosi tersebut, dan reaksi emosi yang dapat diekspresikan anak-anak autistik.
Sumber: Neila Ramdhani
Retty Thiomina
Bambang Nur Prastowo
Sri Suning Kusumawardhani
Emosi & Autism
Emosi merupakan respon individu terhadap benda, orang, dan situasi. Respon ini dapat menyenangkan atau positif tetapi dapat juga tidak menyenangkan atau negatif (Ekman, 1999). Secara fisiologis, simtem limbik yang terdapat di dalam susunan syaraf manusia sering dikaitkan dengan emosi ini (Kotter, et.al., 1997) sehingga gangguan pada sistem limbik dapat mengakibatkan kesulitan mengendalikan emosi. Moetrasi (dalam Azwandi, 2005) memberikan contoh reaksi mudah mengamuk, marah, agresif, menangis, takut pada hal-hal tertentu, dan mendadak tertawa tanpa stimulus yang jelas sebagai akibat dari adanya gangguan pada sistem limbik. Selain itu anak menjadi hiperkinetis, agresif, menolak beraktivitas dengan alasan tidak jelas, membenturkan kepala, menggigit, mencakar, atau menarik rambut adalah contoh reaksi emosi yang berujud perilaku sebagai akibat gangguan sistem limbik ini.
Bidang fungsional dari syaraf pusat yang juga berpengaruh adalah pemrosesan sensorik. Individu yang mengalami gangguan pemrosesan sensorik tidak dapat mengintegrasikan data emosional yang masuk dan menafsirkannya dari berbagai sudut pandang. Pemrosesan emosional dapat dikacaukan oleh mereka yang terlampau reaktif atau kurang reaktif. Reaktifitas sensorik atau gangguan pemrosesan dapat menyebabkan kesalahan dalam menafsirkan informasi emosional yang diperoleh dari sekelilingnya sehingga mengakibatkan reaksi emosional yang tidak tepat (Greenspan dan Weider, 2006).
Penelitian-penelitian berkaitan dengan aspek emosi individu dengan autistik ini sudah banyak dilakukan (Schultz, 2005). Temuan-temuan sebelumnya memperlihatkan adanya indikasi kelemahan penyandang autis untuk mengenali kandungan emosi dari stimulus yang dihadapi. Bahon-Cohen et al (dalam Castelli, 2005) yang menemukan kelemahan yang spesifik pada pengenalan ekspresi terkejut (belief-based expression) dibanding emosi senang dan sedih (reality-based expression). Castelli menambahkan bahwa anak dengan autistik mengalami kesulitan dalam mengenali emosi orang lain sehingga mereka tidak mampu mengekspresikan emosinya, apalagi melakukan kontak emosi dengan orang lain.
Hasil yang berkebalikan dilaporkan oleh Castelli (2005) dalam penelitiannya yang lain. Ia menemukan juga bahwa anak dengan autistik dapat mengenali emosi dasar (Happines, Anger, Sadness, Surprise, Fear, Disgust) melalui ekspresi wajah, tidak hanya pada saat mencocokkan gambar ekspresi wajah, tetapi juga saat memberikan nama pada masing-masing ekspresi wajah tersebut.
Beberapa stimulus yang mengundang respon bagi anak-anak autistik dapat berupa benda maupun peristiwa. Namun, adanya gangguan pemrosesan pada anak autistik dapat mengakibatkan reaksi emosional yang tidak tepat atau ekstrim sehingga menyebabkan kebingungan dan ketakutan. Dalam beberapa penelitian mengenai emosi pada anak autis didapatkan beberapa stimulus yang menimbulkan respon emosi adalah benda-benda yang ada di dalam kehidupan mereka sehari-hari (Greenspan dan Wieder, 2006). Ditemukan bahwa benda-benda lebih banyak direspon daripada orang-orang yang ada di dalam kehidupannya (Peeters, 2004), respon anak autis terhadap benda-benda tampak pada keinginannya untuk mengambil dan membawa benda tersebut kemana mereka pergi. Apabila mereka dipisahkan dari benda-benda tersebut maka akan terjadi penolakan dan marah. Selain marah, anak-anak dengan autistik biasa juga melampiaskan dengan cara menyakiti diri sendiri seperti, membenturkan kepala atau menarik rambut sendiri (Azwandi, 2005).
Sumber: Neila Ramdhani
Retty Thiomina
Bambang Nur Prastowo
Sri Suning Kusumawardhani
Bidang fungsional dari syaraf pusat yang juga berpengaruh adalah pemrosesan sensorik. Individu yang mengalami gangguan pemrosesan sensorik tidak dapat mengintegrasikan data emosional yang masuk dan menafsirkannya dari berbagai sudut pandang. Pemrosesan emosional dapat dikacaukan oleh mereka yang terlampau reaktif atau kurang reaktif. Reaktifitas sensorik atau gangguan pemrosesan dapat menyebabkan kesalahan dalam menafsirkan informasi emosional yang diperoleh dari sekelilingnya sehingga mengakibatkan reaksi emosional yang tidak tepat (Greenspan dan Weider, 2006).
Penelitian-penelitian berkaitan dengan aspek emosi individu dengan autistik ini sudah banyak dilakukan (Schultz, 2005). Temuan-temuan sebelumnya memperlihatkan adanya indikasi kelemahan penyandang autis untuk mengenali kandungan emosi dari stimulus yang dihadapi. Bahon-Cohen et al (dalam Castelli, 2005) yang menemukan kelemahan yang spesifik pada pengenalan ekspresi terkejut (belief-based expression) dibanding emosi senang dan sedih (reality-based expression). Castelli menambahkan bahwa anak dengan autistik mengalami kesulitan dalam mengenali emosi orang lain sehingga mereka tidak mampu mengekspresikan emosinya, apalagi melakukan kontak emosi dengan orang lain.
Hasil yang berkebalikan dilaporkan oleh Castelli (2005) dalam penelitiannya yang lain. Ia menemukan juga bahwa anak dengan autistik dapat mengenali emosi dasar (Happines, Anger, Sadness, Surprise, Fear, Disgust) melalui ekspresi wajah, tidak hanya pada saat mencocokkan gambar ekspresi wajah, tetapi juga saat memberikan nama pada masing-masing ekspresi wajah tersebut.
Beberapa stimulus yang mengundang respon bagi anak-anak autistik dapat berupa benda maupun peristiwa. Namun, adanya gangguan pemrosesan pada anak autistik dapat mengakibatkan reaksi emosional yang tidak tepat atau ekstrim sehingga menyebabkan kebingungan dan ketakutan. Dalam beberapa penelitian mengenai emosi pada anak autis didapatkan beberapa stimulus yang menimbulkan respon emosi adalah benda-benda yang ada di dalam kehidupan mereka sehari-hari (Greenspan dan Wieder, 2006). Ditemukan bahwa benda-benda lebih banyak direspon daripada orang-orang yang ada di dalam kehidupannya (Peeters, 2004), respon anak autis terhadap benda-benda tampak pada keinginannya untuk mengambil dan membawa benda tersebut kemana mereka pergi. Apabila mereka dipisahkan dari benda-benda tersebut maka akan terjadi penolakan dan marah. Selain marah, anak-anak dengan autistik biasa juga melampiaskan dengan cara menyakiti diri sendiri seperti, membenturkan kepala atau menarik rambut sendiri (Azwandi, 2005).
Sumber: Neila Ramdhani
Retty Thiomina
Bambang Nur Prastowo
Sri Suning Kusumawardhani
Autism: Simtom dan Penyebabnya
Diagnostic Statistical Manual IV (DSM-IV) mengelompokkan autistik kedalam Autism Spectrum Disorder (ASD). Individu dengan autistik mengalami gangguan kapasitas pemahaman sosial, yang biasanya diikuti dengan adanya kesulitan dalam berkomunikasi dan memroses informasi yang ditangkap oleh alat indera (Siegel, 2003). Hambatan ini menjadikan individu dengan autistik, menyandang simtom objektif, dimana simtom yang dialami hanya dapat diamati oleh orang lain saja (Tilton, 2004). Simtom objektif ini berbeda dengan penderita gangguan psikologis yang umumnya mengalami simtom subjektif dimana individu dapat mengalami dan merasakan hambatan yang dialami. Di Amerika Serikat anak autistik ini tidak disebut dengan penderita atau mengalami autistik tetapi mereka lazim disebut individu dengan autistik (pada anak disebut children with autism). Tiga simtom utama yang dapat dijadikan pedoman dalam mendiagnosis ASD ini adalah hambatan dalam hubungan sosial, komunikasi sosial, dan kemampuan berpikir imakinatif (Sicile-Kira, 2004).
Apakah penyebab autism masih belum diketahui dengan pasti. Pada awalnya, beberapa buku sempat mengemukakan pengasuhan ibu yang kurang hangat sebagai penyebab utama sehingga menyebabkan anak-anak autis ini menarik diri dan sibuk dengan dunianya sendiri (Stacey, 2003). Teori Refrigerator Mother yang dikembangkan oleh Bruno Bettelheim (dalam Jacobsen, 2004) mengemukakan bahwa autistik disebabkan oleh pengasuhan ibu yang kurang hangat. Teori ini sangat populer pada akhir tahun 50-an hingga pada akhirnya agak melemah gaungnya seiring dengan terbitnya buku Bernard Rimland pada tahun 1964 (dalam Ginanjar, 2007) yang memaparkan tentang adanya gangguan susunan saraf pusat pada anak-anak dengan autistik. Tiga lokasi yang diduga berbeda polanya dibandingkan dengan anak normal adalah sirkuit batang otak-serebrum, sistem limbik, dan sirkuit korteks serebri (Minshew, dalam Schopler & Mesibov, 1992). Kondisi inilah yang disinyalir berkaitan dengan gangguan pada perkembangan kognitif, bahasa, emosi, dan interaksi sosial.
Merespon tidak konsistennya hasil riset mengenai penyebab ASD ini, Peeters (2004) mengemukakan bahwa autistik merupakan gangguan dengan penyebab multifaktor, meliputi faktor genetik dan lingkungan. Salah satu penyebabnya adalah berbagai kondisi yang mempengaruhi dan mengganggu proses perkembangan otak, baik itu terjadi sebelum, selama maupun setelah bayi lahir.
Sumber: Neila Ramdhani
Retty Thiomina
Bambang Nur Prastowo
Sri Suning Kusumawardhani
Apakah penyebab autism masih belum diketahui dengan pasti. Pada awalnya, beberapa buku sempat mengemukakan pengasuhan ibu yang kurang hangat sebagai penyebab utama sehingga menyebabkan anak-anak autis ini menarik diri dan sibuk dengan dunianya sendiri (Stacey, 2003). Teori Refrigerator Mother yang dikembangkan oleh Bruno Bettelheim (dalam Jacobsen, 2004) mengemukakan bahwa autistik disebabkan oleh pengasuhan ibu yang kurang hangat. Teori ini sangat populer pada akhir tahun 50-an hingga pada akhirnya agak melemah gaungnya seiring dengan terbitnya buku Bernard Rimland pada tahun 1964 (dalam Ginanjar, 2007) yang memaparkan tentang adanya gangguan susunan saraf pusat pada anak-anak dengan autistik. Tiga lokasi yang diduga berbeda polanya dibandingkan dengan anak normal adalah sirkuit batang otak-serebrum, sistem limbik, dan sirkuit korteks serebri (Minshew, dalam Schopler & Mesibov, 1992). Kondisi inilah yang disinyalir berkaitan dengan gangguan pada perkembangan kognitif, bahasa, emosi, dan interaksi sosial.
Merespon tidak konsistennya hasil riset mengenai penyebab ASD ini, Peeters (2004) mengemukakan bahwa autistik merupakan gangguan dengan penyebab multifaktor, meliputi faktor genetik dan lingkungan. Salah satu penyebabnya adalah berbagai kondisi yang mempengaruhi dan mengganggu proses perkembangan otak, baik itu terjadi sebelum, selama maupun setelah bayi lahir.
Sumber: Neila Ramdhani
Retty Thiomina
Bambang Nur Prastowo
Sri Suning Kusumawardhani
AUTIS PADA ORANG DEWASA
ternyata autis itu bukan hanya terjadi pada anak-anak tapi juga pada orang dewasa terutama yang sudah akil baligh, penyebabnya adalah suatu virus yang sangat ganas so hati-hati deh ma virus ini, Virus ini dikenal dengan nama Virus Merah Jambu (PINKY VIRUS) yang kemudian menimbulkan penyakit yang disebut Penyakit Malarindu Tropikangenis, dan pada effek berikutnya mengakibatkan Autisme pada orang dewasa
Autis pada orang dewasa penyerangannya bisa sangat mendadak dan tak kenal waktu sifatnya tidak permanen alias kambuhan, Ga percaya?????, nie ciri2nya:
Tidak bisa menguasai atau sangat lamban dalam penguasaan bahasa sehari-hari, sulit banget diajak bicara kalaupun akhirnya ngomong kosakatanya sangat terbatas misalnya ” dia lucu banget ya…..” ” gw tergila-gila”…”gw mau ketemu dia bla…bla…bla….
Hanya bisa mengulang-ulang beberapa kata misalnya “kangen….kangen….kangen”, ” dia.. dia..dia…”
Mata yang tidak jernih atau tidak bersinar, ini terjadi karena abis berantem or gagal ketemuan hingga matanya sayu dan sendu
Tidak suka/tidak bisa/tidak mau melihat mata orang lain..coz cinta itu buta kan!!! seperti kata Tiffany tuh ” If Love Is Blind”
Hanya suka akan mainannya sendiri, yes, Boys are toys or Girls are toys
Sibuk dengan dunianya sendiri, hmm yang kena virus ini dunia memang serasa milik berdua yang lain dianggap ngontrak aja deh
Tidak suka berbicara dengan orang lain, iya dia lebih suka ngomong sendiri di kamar terutama malam-malam apalagi kalau penyakit Malarindu Tropikangenis-nya sedang kumat banget, wah bisa gawat tuh.
Tidak suka atau tidak bisa menggoda orang lain, itu karena kebetulan penderita ga kerja di taman lawang
Begitulah hasil penelitian dari Dokter Cinta dari Universitas Asmara, dan ternyata tambahannya lagi, autis yang menyerang orang dewasa ini bisa menimbulkan penyimpangan perilaku yang bisa sangat sangat menyebalkan buat orang-orang disekitarnya karena penderita biasanya out of control or out of reach, bahkan out of mind dan out out yang lainnya
Sumber: SENYAWA
Autis pada orang dewasa penyerangannya bisa sangat mendadak dan tak kenal waktu sifatnya tidak permanen alias kambuhan, Ga percaya?????, nie ciri2nya:
Tidak bisa menguasai atau sangat lamban dalam penguasaan bahasa sehari-hari, sulit banget diajak bicara kalaupun akhirnya ngomong kosakatanya sangat terbatas misalnya ” dia lucu banget ya…..” ” gw tergila-gila”…”gw mau ketemu dia bla…bla…bla….
Hanya bisa mengulang-ulang beberapa kata misalnya “kangen….kangen….kangen”, ” dia.. dia..dia…”
Mata yang tidak jernih atau tidak bersinar, ini terjadi karena abis berantem or gagal ketemuan hingga matanya sayu dan sendu
Tidak suka/tidak bisa/tidak mau melihat mata orang lain..coz cinta itu buta kan!!! seperti kata Tiffany tuh ” If Love Is Blind”
Hanya suka akan mainannya sendiri, yes, Boys are toys or Girls are toys
Sibuk dengan dunianya sendiri, hmm yang kena virus ini dunia memang serasa milik berdua yang lain dianggap ngontrak aja deh
Tidak suka berbicara dengan orang lain, iya dia lebih suka ngomong sendiri di kamar terutama malam-malam apalagi kalau penyakit Malarindu Tropikangenis-nya sedang kumat banget, wah bisa gawat tuh.
Tidak suka atau tidak bisa menggoda orang lain, itu karena kebetulan penderita ga kerja di taman lawang
Begitulah hasil penelitian dari Dokter Cinta dari Universitas Asmara, dan ternyata tambahannya lagi, autis yang menyerang orang dewasa ini bisa menimbulkan penyimpangan perilaku yang bisa sangat sangat menyebalkan buat orang-orang disekitarnya karena penderita biasanya out of control or out of reach, bahkan out of mind dan out out yang lainnya
Sumber: SENYAWA
Langganan:
Postingan (Atom)