Rabu, 24 Februari 2010

TIPS Supaya Si Kecil tidak Galak

Sungguh bingung kalau buah hati kita galak. Bahkan pada ayah-ibunya. Lebih-lebih bila orang tua teman anak komplain karena anaknya digalakin si upik atau buyung kita. Betapa malunya! Tentu harus ada cara mengatasinya.

“Aku nggak mau kamu main disini. Awas kalau kesini!”
Aduh betapa merahnya telinga kita jika mendengar si kecil galak sama temannya. Kenapa ya? Nggak usah heran. Kalau ia berteriak dan Anda merespon dengan teriakan pula(meski hanya intonasi Anda yang kenceng ) ,bagaimana pula si kecil bisa belajar berkata dengan lemah lembut? Malah kemungkinan ia tertantang untuk mencoba teriakan-teriakan lainnya ataupun tambah menjadi-jadi berteriak. Supaya tak galak lagi, harus ada cara mengatasinya :
 Memberi Contoh Tegas bukan Keras dan Galak
Simpelnya, kalau kita biasa bicara lemah lembut, si kecil pasti akan menirunya. Kalau lagi marah apa harus keras padanya ? Percayalah, bicara tegas bisa dilakukan bukan dengan suara keras tapi intonasi yang mantap.
 Mengajari Anak Cara Berekspresi yang Tepat
Bisa saja anak memilih berteriak atau membanting-banting barang, karena ia tak tahu bagaimana mengungkapkan kekesalannya. Karena itu latih ia mengekspresikan kemarahan dengan mengungkapkan kekesalannya secara benar. Latih ia bicara apa yang dirasakan atau tak disukainya. Setelah itu ajaklah melakukan aktivitas yan membuat tenang, misalnya menyanyi.
 Ajak Ia Mengikuti Prosesnya
Ajak si kecil melihat dan mengikuti prosesnya. Misalnya ia kesal saat menunggu susunya, Anda bias mengajaknya mengajaknya membuat susu bersama, atau melihat bagaimana si mbak membuatnya. Dengan demikian anak akan tahu segala sesuatu melalui proses bukan sulap.
 Berilah Anak Pilihan
Daripada marah-marah karena ia sulit diajak mandi misalnya, lebih baik memberinya memberinya pilihan. “Adek mau mandi sekarang atau 10 menit lagi?”Tapi tegaskan ia untuk menepati pilihannya dan beri sanksi kalau tak menepatinya.
 Jangan Lupa, Berilah Pujian
Jangan segan memberi pujian kalau menurut Anda anak bersikap benar. Pujian itu akan memotivasinya terus bersikap baik.



SUMBER : Majalah Kartini

TIPS Mengusir Rasa Rendah Diri

Seorang yang memiliki kepribadian minder atau low self-esteem, bukan berarti tak dapat menjadi pribadi yang penuh self-esteem, yakni tipe kepribadian yang penuh percaya diri, hangat, optimis. Anda bisa, tentu dengan kemauan kuat, membuka diri dalam pergaulan,banyak membaca agar wawasan Anda terbuka, dan sebagainya. Selain itu cobalah :
1. Hadapi Rasa Takut Anda
Semua hal yang tidak atau belum kita ketahui memang membuat takut dan minder. Tapi percayalah, rasa takut sebenarnya hanya ada dalam pikiran dan bayangan kita. Pada dasarnya tak akan berakibat seburuk yang kita kira.
2. Jangan Terpuruk Karena Kegagalan
Sebelum mencapai keberhasilan akan melewati kegagalan. Dari kegagalan masa lalu, jangan terpuruk karenanya, tetapi hindari kesalahan yang sama, maka Anda akan menjadi lebih bijak dan lebih kuat.
3. Mengetahui Apa Yang Anda Inginkan
Apapun yang Anda inginkan tentu harus jelas Anda ketahui. Sehingga jelas pula bagaimana usaha-usaha yang dapat Anda lakukan untuk menggapainya. Pengetahuan tentang apa yang Anda tuju, membuat Anda lebih percayakan akan dapat meraihnya.
4. Hargai Diri Sendiri Bila Berhasil
Banyak orang yang lupa menghargai keberhasilan diri sendiri. Bisa karena minder, atau karena tak bersyukur. Keduanya menimbulkan aura negative pada diri sendiri. Menghargai yang Anda capai akan membuat orang lain pun menghargainya, dan Anda pasti termotivasi untuk mencapai lagi yang lebih baik.
5. Berbicaralah, Jangan Berasumsi
Kita seringkali membuat asumsi bahwa seseorang atau situasinya sungguh buruk. Padahal asumsi tak benar akan menjerumuskan Anda. Berbicara dan mendapat jawaban membuat pikiran Anda tenang.
6. Gagal ? Yang Penting Jangan Merasa Kalah
Kegagalan adalah hal yang biasa. Yang terpenting dari itu adalah bagaimana kita tidak merasa kalah, tetapi sekedar mundur untuk mempelajari situasinya. Jadi, jangan mau dikalahkan oleh satu kegagalan.




Sumber : Majalah Kartini

Terapi Rileksasi Pengalihan Stress

1. Musik
Menikmati musik ternyata mempunyai banyak manfaat. Satu diantaranya, bisa dijadikan sebagai terapi kesehatan untuk meningkatkan atau memperbaiki kondisi fisik, emosi, kognitif, dan social bagi individu dari berbagai kalangan usia. Bagi orang yang sehat, terapi musik bisa dilakukan untuk mengurangi stress dengan cara mendengarkan atau mainkan alat musik seperti drum. Selain mengendalikan stress, terapi musik dapat pula menjaga dan meningkatkan kesehatan, memori, kemampuan komunikasi dan mempercepat rehabilitasi fisik.

2. Seni
Terapi seni misalnya melukis, juga mampu membantu mengatasi stress. Kuas dan cat aneka warna akan membawa seseorang seolah memasuki dunia lain. Anda bisa mengekspresian sedih, tertekan dan stress. Lewat lukisan pula seseorang bisa menghapus segala kesedihan dan menciptakan gambaran-gambaran yang membuatnya kembali merasa bahagi, membangkitkan masa-masa indah yang pernah dialaminya bersama orang-orang yang dicintai. Terapi seni menggunakan aktivitas yang bersifat kreatif untuk membantu orang mengatasi konflik emosional, membangun kesadaran diri dan meningkatkan rasa percaya diri.

3. Nutrisi
Stress bisa merusak pertahanan alami tubuh dan mengatifkan hormone stress yang bisa menguras nutrisi dan cadangan energi tubuh. Untuk membantu tubuh agar kuat menghadapi stress, anda perlu mengonsumsi banyak makanan dari kelompok karbohidrat kompleks, misalnya beras merah , pasta , roti gandum, serta polong-polongan, buah-buah dan sayur-mayur. Saraf dan system kekebalan tubuh juga membutuhkan makanan kaya vitamin B untuk mengatasi kelelahan yang ditimbulkan oleh stress.

4. Tertawa
Kelihatannya tertawa memang aktivitas biasa. Namun jangan menganggap sepele urusan tertawa. Sejak ratusan tahun lalu tertawa memiliki efek medis terhadap kesehatan manusia. Bisa mengurangi bahkan mengatasi stress. Orang yang biasa tertawa spontan lebih mungkin tidak mengalami stress. Karena gangguan stress efektif diatasi dengan terapi tertawa teratur. Ketika seseorang tertawa, tubuhnya akan menghasilkan zat baik seperti melantonin, endorphin dan serotonin yang menekan capisol, adrenalin serta radikal bebas. Efek jangka panjangnya, mencegah kanker dan membuat awet muda. ( Berbagai sumber )



Sumber : Majalah Kartini

Anak Jadi Mudah Marah

Sejak satu bulan terakhir ini putri pertama dari seorang ibu menunjukkan perubahan sikap yang selama ini tidak pernah dilakukannya. Dia menjadi mudah marah, pemurung, suka berteriak-teriak sambil menangis keras, dan melempar benda yang ada di dekatnya jika keinginananya tidak dituruti.
Dulunya tidak seperti itu. Ia anak periang dan penurut. Karena nurut maka ketika sekolah di TK dia sering dilibatkan oleh gurunya mengikuti berbagai kegiatan didalam maupun diluar sekolah.
Masalah itu tidak disampaikan pada suaminya sebab sudah beberapa waktu mereka tidak teguran. Suaminya jarang di rumah. Bila pulang sudah larut malam.

Apa yang dapat dilakukan dalam menghadapi perubahan si anak ???

Ada kemungkinan perubahan itu karena factor trauma sebagai dampak ketegangan hubungan ibu dengan si ayah. Anak bisa mengalami ketegangan mental setelah melihat kedua orang tuanya tidak akur seperti dulu lagi. Akan tetapi karena seorang anak tidak mampu mengungkapkan perasaanya secara jelas seperti halnya orang dewasa, maka ketegangan mental itu dimanifestasi dalam bentuk perilaku yang tidak biasa dia lakukan selama ini, misalnya menjadi pemarah, pemurung, menangis berteriak-teriak,dan lainnya.
Anak mengalami ketegangan pikiran akibat orang tuanya kurang harmonis. Cobalah untuk berkomunikasi denagan si anak, mungkin ada harapan dia cukup terbuka menceritakan permasalahan yang dihadapi. Untuk mendapatkan jawaban anak, terlebih dahulu ciptakan suasana yang membuatnya menjadi rileks, misalnya ajak ke tempat bermain yang disukai. Bicarakanah masalah disekeliling tempat bermain. Boleh juga saat itu Anda menuruti permintaan anak, misalnya anak minta dibelikan mainan. Hal itu dimaksudkan membuat hati anak senang.
Untuk mulai memancing kea rah pembicaraan yang diharapkan, maka coba lakukan dengan menghindarkan nada atau bentuk pertanyaan menyelidik. Jika anak menunjukkan sikap tidak suka,maka segera hentikan dan alihkan secara halus arah pembicaraan. Demikian seterusnya Anda lakukan secara perlahan. Sangat dibutuhkan kesabaran akstra jika Anda menginginkan sesuatu yang terbaik bagi putrid anda.
Perubahan perilakau pada si anak harus ditangani secara tepat , jika tidak akan mengganggu perkembangannya. Misalnya anak jadi tidak percaya diri, prestasi belajar turun, tidak mampu membina hubungan social yang sehat ,dan lainnya.


SUMBER : Majalah Kartini

PENANGANAN TEPAT ADHD

Bila orangtua sudah menemukan salah satu atau beberapa ciri-ciri anak dengan gangguan ADHD, sebaiknya segera bawa anak ke ahlidalam hal ini psikolog/psikiateruntuk mendapatkan penanganan yang tepat. Prinsipnya, lebih baik orangtua "curiga" dahulu meski kemudian tak terbukti, daripada menunda kecurigaan dengan risiko penanganannya terlambat. Oleh psikolog/psikiater, anak dan orangtua akan diobservasi lebih lanjut dengan beberapa tes/pertanyaan. Bila memang terbukti anak mengalami kesulitan belajar karena ADHD, maka penanganan yang akan dilakukan adalah:

* Pemberian obat.

Bertujuan mengurangi sensitivitas transporter dopamin sehingga dopamin yang bisa diserap oleh reseptor lebih banyak. Dengan demikian diharapkan anak lebih bisa konsentrasi dan mempunyai kontrol diri. Jenis obat-obatan yang diberikan antara lain golongan amfetamin, aferadin, dexmethylphenidate, dan sebagainya. Pemberian obat ini harus dengan pengawasan dokter dan akan dihentikan bila dirasa cukup, jadi tak dikonsumsi anak selamanya.

* Terapi perilaku.

Seiring dengan pemberian obat, anak diminta menjalani terapi perilaku. Tujuannya, mengajari anak melakukan sesuatu sebagaimana mestinya. Seperti diketahui, anak-anak ini umumnya tak bisa duduk diam, memusatkan perhatian, mendengarkan orangtua/guru yang sedang berbicara, menggunakan alat tulis dengan benar, dan sebagainya.

* Remedial teaching programme.

Setelah anak lebih bisa memusatkan perhatian, maka diharapkan adanya remedial teaching programme. Program ini melibatkan pihak sekolah untuk mengejar ketertinggalan anak pada pelajaran yang diberikan.



Sumber:
Marfuah Panji Astuti. Ilustrasi Pugoeh Dok. nakita

Narasumber:

Dr. Tjin Wiguna, Sp.KJ.,

dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

TIGA TIPE GANGGUAN ADHD

Secara umum gangguan ini dapat digolongkan menjadi 3, yaitu;

* Tipe Predominantly Hyperactive-impulsive.

Ciri-ciri: tak bisa diam, berlarian, memanjat-manjat, terburu-buru menjawab meski pertanyaan belum selesai, tak sabar berada dalam antrean, dan sebagainya.

* Tipe Predominantly Inattentive.

Ciri-ciri: sulit memusatkan perhatian, ceroboh, sering kehilangan barang karena lupa, belum selesai mengerjakan sesuatu sudah ditinggal untuk mengerjakan hal lain.

* Kombinasi keduanya.

Ciri-ciri: menunjukkan ciri-ciri dari keduanya.



Sumber:
Marfuah Panji Astuti. Ilustrasi Pugoeh Dok. nakita

Narasumber:

Dr. Tjin Wiguna, Sp.KJ.,

dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

CIRI-CIRI LAIN ANAK ADHD

CIRI-CIRI

Sebenarnya, anak dengan gangguan ADHD sudah bisa terdeteksi sejak bayi, dengan beberapa ciri yang khas, semisal lebih lasak, tidur lebih sebentar, sulit memusatkan perhatian dan sebagainya. Jadi, gangguan ini tidak muncul tiba-tiba di usia prasekolah/sekolah. Kalaupun orangtua merasa sudah terlewat mendeteksi di usia sebelumnya, berikut ciri-ciri yang harus diwaspadai:

+ Rentang perhatian sempit.

Anak-anak ini mempunyai rentang perhatian yang sempit dan mudah teralih, daya ingat yang buruk (lupa mengerjakan PR, sering kehilangan barang karena lupa, bermasalah dengan janji yang dibuat sendiri), sulit mempelajari hal baru terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingat, mengalami kesulitan dalam mengikuti petunjuk atau rutinitas tertentu.

+ Hiperaktif

Tak bisa duduk diam saat makan maupun di kelas, selalu bergerak dan berlarian, menyentuh benda-benda yang ada di sekitarnya, membuat kegaduhan dengan alat-alat tulis yang sedang dipegangnya, terlihat "sok tahu" saat membicarakan sesuatu sementara ia sendiri tak mengerjakan apa yang dibicarakannya itu.

+ Tantrum

Memiliki problem emosi seperti mudah marah dengan sebab yang tidak jelas, mudah tersinggung, pemurung, tak acuh, dan suka mengasingkan diri dari lingkungan, impulsif (bertindak sebelum berpikir), kekanak-kanakan (perilaku tak sesuai dengan usianya), dan keras kepala.

+ Ciri lainnya:

- Membuat kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca, misalnya huruf b dibaca d, kata roda dibaca dora, serta minimnya penguasaan jumlah kata.

- Lambat mempelajari hubungan antara huruf dan bunyi.

- Kesulitan mempelajari huruf, angka, tanda-tanda dalam matematika (-, x, +), nama-nama hari dalam seminggu.

- Tidak menyukai permainan pasel.

- Tidak menyukai pelajaran menggambar dan prakarya.

- Lambat dan tak bisa mengerjakan beberapa tugas yang diberikan sekaligus.

- Buruk dalam hal perencanaan.

- Disfungsi motorik, seperti sulit memegang alat tulis, gunting, gangguan motorik halus dan koordinasi.



Sumber:
Marfuah Panji Astuti. Ilustrasi Pugoeh Dok. nakita

Narasumber:

Dr. Tjin Wiguna, Sp.KJ.,

dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia