Anak-anak berkesulitan belajar perlu mengetahui bahwa orangtua maupun guru yang akan membimbingnya dapat merasakan apa yang mereka rasakan/alami. Dengan kata lain, orangtua ataupun guru harus memiliki empati terhadap dirinya. Dengan begitu, secara bertahap mereka akan bisa terbuka – selanjutnya, mengemukakan keluhan-keluhannya – untuk mendapatkan pengarahan dan mencoba untuk mengatasi kesulitan belajarnya.
Orangtua maupun guru harus menyadari bahwa setiap anak adalah pribadi yang unik, tidak bisa digebyah uyah (digeneralisasi), masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kematangan yang mereka alami berbeda satu dengan lainnya sekalipun memiliki jenis kesulitan yang sama. Karena itu, kebutuhan penanganannya pun berbeda dengan sentuhan-sentuhan yang individual untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Anak berkesulitan belajar memerlukan lingkungan yang hangat, penuh canda untuk memberi semangat agar merasa tidak sendiri (dikucilkan).
Mereka akan lebih berkembang secara positif bila berada dalam lingkungan yang penuh larangan, ancaman hukuman bahkan jika mungkin sebaiknya hindarkan hukuman yang sifatnya fisik. Lebih baik melihat kelebihan-kelebihannya, daripada selalu mengungkit kekurangan-kekurangan atau kenakalan-kenakalannya. Namun, kita harus selalu konsisten dengan aturan-aturan yang ada, hingga mereka akan merasa aman, memperoleh batasan mana yang boleh dan mana yang dilarang.
Melihat hasil pendeteksian di atas, sebaiknya kita mengajarkan pada mereka dalam menyelesaikan tugas untuk memisah-misahkan langkah-langkah yang diperlukan. Kemudian menyusun secara logis urutan-urutan yang harus dilakukan. Seperti halnya dalam aktivitas menulis. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengarahkan anak untuk memegang pensil dengan benar. Bila masih sulit, sebaiknya diberikan latihan-latihan (terapi) untuk penguatan otot tangan (misalnya dengan bermain play doh, busa sabun dan lain sebagainya).
Anak berkesulitan belajar selalu mengalami kesulitan bila mengorganisasikan dirinya. Barang-barang miliknya berserakan tak teratur. Sehingga perlu diberi struktur yang benar oleh guru maupun orangtuanya. Tujuannya adalah untuk mengetahui ruang geraknya dengan cara memberikan batasan yang jelas, apa yang boleh dan apa yang dilarang.Orangtua bisa memberikan kepada mereka rutinitas kegiatan, seperti misalnya menempatkan setiap barangnya pada tempat yang telah disediakan, menjelaskan satu per satu yang akan dialami anak setiap harinya. Berangkat ke sekolah, usai sekolah akan pergi ke tempat terapi, setelah itu pulang ke rumah. Struktur bisa pula dikembangkan dengan cara menyederhanakan pilihan. Seperti “kamu mau pakai kaos merah atau biru?” daripada mengatakan “kamu mau pakai baju yang warna apa?”. Bila Anda seorang guru, berikanlah kepada siswa-siswi terutama untuk anak yang berkesulitan belajar struktur dengan cara menentukan kegiatan yang akan dilakukan di kelas setiap hari di awal pembelajaran, menyiapkan anak saat kelas akan berakhir atau memberikan peringatan terhadap perubahan-perubahan rutin.
Struktur yang diberikan saat mengerjakan tugas adalah menjelaskan tujuan apa yang diharapkan dari tugas yang sedang dilakukan, bagimana contoh nyata dan cara kerja yang diharapkan. Hal semacam ini akan lebih baik bila dapat ditulis dengan sederhana sehingga dapat dilihat sekaligus difahami. Dengan adanya struktur ini, diharapkan mereka akan lebih mudah berkonsentrasi pada tugasnya. Hindarkan materi yang sulit difahami apalagi dalam jumlah yang banyak, kemudian pakailah bahasa yang sederhana dan singkat.Anak berkesulitan belajar dalam belajar membutuhkan penggunaan setiap saluran indera. Tujuannya adalah agar mereka memperoleh pengetahuan sekaligus mempertahan-kannya di dalam ingatan.
Pengalaman menyentuh, merasakan, mencium, melihat, mendengar dan melakukan akan dapat mengorganisasikan dan mengintegrasikan informasi di dalam otaknya. Sudah sama-sama kita pahami bila anak berkesulitan belajar sangat sulit menangkap konsep yang abstrak. Karena itu, ajaklah mereka melalui benda-benda yang nyata terlebih dahulu atau bisa pula melalui gambar-gambar yang mudah dipahami karena pengalaman terhadap obyek-obyek yang nyata akan lebih mudah melekat dalam ingatan dan bisa segera dikeluarkan saat dibutuhkan. Tentu saja semua itu akan menjadi lengkap bila melalui pendekatan multi-disiplin antar-profesional, seperti yang telah disebutkan di atas.
Menangani anak berkesulitan belajar adalah sebuah proses panjang yang membutuhkan kesabaran. Tak mungkin dilakukan secara instan dan terburu-buru.Sejarah telah mencatat, beberapa nama besar adalah mereka yang terdeteksi sebagai anak berkesulitan belajar. Salah satunya adalah Thomas Alva Edison, sang penemu lampu pijar. Bayangkan, bila Edison tak memiliki orangtua (baca; seorang ibu) yang begitu yakin akan kemampuan anaknya dan memiliki kesabaran yang luar biasa. Ibu Edison tidak menyerah begitu saja ketika anaknya ditolak di beberapa sekolah karena dianggap anak bodoh. Barangkali hingga saat ini kita tak akan pernah menikmati sinar terang di malam hari dari lampu-lampu atas jasa penemuan Thomas Alva Edison.Anak berkesulitan sangat memerlukan penanganan yang benar dan ke-sabaran kita.
Sumber: http://specialneedskid.wordpress.com/
Rabu, 14 April 2010
MENGENAL ANAK BERKESULITAN BELAJAR: bab 4
PADA USIA REMAJA/DEWASA
1. Sulit/salah mengeja huruf berlanjut hingga dewasa
2. Masih saja sering menghindar dari tugas-tugas membaca dan menulis
3. Mungkin saja lancer dalam membaca tapi tidak mengerti atau tidak bisa menjelaskan apa yang telah dibacanya
4. Sulit menjawab pertanyaan yang membutuhkan penjelasan lisan dan/atau tulisan
5. Daya ingatnya terbatas
6. Sulit menangkap konsep-konsep yang abstrak
7. lamban dalam bekerja
8. Sering tidak telitu (ceroboh) pada hal-hal yang seharusnya rinci atau malah sebaliknya justru terlalu focus kepada hal-hal yang rinci
9. Bisa salah (distorsi) dalam membaca informasi
Sumber: http://specialneedskid.wordpress.com/
1. Sulit/salah mengeja huruf berlanjut hingga dewasa
2. Masih saja sering menghindar dari tugas-tugas membaca dan menulis
3. Mungkin saja lancer dalam membaca tapi tidak mengerti atau tidak bisa menjelaskan apa yang telah dibacanya
4. Sulit menjawab pertanyaan yang membutuhkan penjelasan lisan dan/atau tulisan
5. Daya ingatnya terbatas
6. Sulit menangkap konsep-konsep yang abstrak
7. lamban dalam bekerja
8. Sering tidak telitu (ceroboh) pada hal-hal yang seharusnya rinci atau malah sebaliknya justru terlalu focus kepada hal-hal yang rinci
9. Bisa salah (distorsi) dalam membaca informasi
Sumber: http://specialneedskid.wordpress.com/
MENGENAL ANAK BERKESULITAN BELAJAR: bab 3
PADA USIA SEKOLAH
1.
Daya ingatnya terbatas (relatif kurang baik)
2.
Sering melakukan kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca, Misalnya atau biasanya, huruf d dibaca b (misalnya duku dibaca buku atau sebaliknya buku dibaca duku), w dibaca m (misalnya waru dibaca baru atau sebaliknya baru dibaca waru), p dibaca q , w dibaca m dan lain sebagainya. Bila ini yang terjadi mereka termasuk dalam kelompok berkesulitan belajar disleksia.
3.
Lambat untuk mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi pengucapannya.
4.
Bingung dengan operasionalisasi tanda-tanda dalam pelajaran matematika. Misalnya, tak dapat membedakan arti dari simbol – (minus) dengan simbol + (plus), simbol + dengan simbol x (kali) dan lain sebagainya.
5.
Sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingatnya.
6.
Sangat aktif dan tidak mampu menyelesaikan tugas atau kegiatan tertentu dengan tuntas. Kalau ini yang terjadi mereka termasuk dalam kelompok berkesulitan belajar hiperaktif atau GPPH (gangguan pemusatan pemikiran dan hiperaktifitas)
7.
Impulsif (bertindak tanpa dipikir terlebih dahulu)
8.
Sulit berkonsentrasi
9.
Sering melanggar aturan yang ada, baik di rumah maupun di sekolah
10.
Tidak mampu berdisiplin (sulit merencanakan kegiatan sehari-harinya)
11.
Emosional (sering menyendiri), pemurung, mudah tersinggung, cuek terhadap lingkungannya
12.
Menolak bersekolah
13.
Tidak stabil dalam memegang alat-alat tulis
14.
Kacau dalam memahami hari dan waktu
Sumber: http://specialneedskid.wordpress.com/
1.
Daya ingatnya terbatas (relatif kurang baik)
2.
Sering melakukan kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca, Misalnya atau biasanya, huruf d dibaca b (misalnya duku dibaca buku atau sebaliknya buku dibaca duku), w dibaca m (misalnya waru dibaca baru atau sebaliknya baru dibaca waru), p dibaca q , w dibaca m dan lain sebagainya. Bila ini yang terjadi mereka termasuk dalam kelompok berkesulitan belajar disleksia.
3.
Lambat untuk mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi pengucapannya.
4.
Bingung dengan operasionalisasi tanda-tanda dalam pelajaran matematika. Misalnya, tak dapat membedakan arti dari simbol – (minus) dengan simbol + (plus), simbol + dengan simbol x (kali) dan lain sebagainya.
5.
Sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingatnya.
6.
Sangat aktif dan tidak mampu menyelesaikan tugas atau kegiatan tertentu dengan tuntas. Kalau ini yang terjadi mereka termasuk dalam kelompok berkesulitan belajar hiperaktif atau GPPH (gangguan pemusatan pemikiran dan hiperaktifitas)
7.
Impulsif (bertindak tanpa dipikir terlebih dahulu)
8.
Sulit berkonsentrasi
9.
Sering melanggar aturan yang ada, baik di rumah maupun di sekolah
10.
Tidak mampu berdisiplin (sulit merencanakan kegiatan sehari-harinya)
11.
Emosional (sering menyendiri), pemurung, mudah tersinggung, cuek terhadap lingkungannya
12.
Menolak bersekolah
13.
Tidak stabil dalam memegang alat-alat tulis
14.
Kacau dalam memahami hari dan waktu
Sumber: http://specialneedskid.wordpress.com/
MENGENAL ANAK BERKESULITAN BELAJAR: bab 2
PADA USIA PRA-SEKOLAH
1. Terlambat bicara disbanding dengan anak seusianya
2. Memiliki kesulitan dalam pengucapan beberapa kata
3. Dibanding anak seusianya, penguasaan jumlah katanya lebih sedikit (terbatas)
4. Sering tidak mampu menemukan kata yang sesuai untuk satu kalimat yang akan dikemukakan
5. Sulit mempelajari dan mengenali angka, huruf dan nama-nama hari
6. Sulit merangkai kata untuk menjadi sebuah kalimat
7. Sering gelisah yang berlebihan
8. Mudah terganggu konsentrasinya
9. Sulit berinteraksi dengan teman seusianya
10. Sulit mengikuti instruksi yang diberikan untuknya
11. Sulit mengikuti rutinitas tertentu
12. Menghindari tugas-tugas tertentu, misalnya menggunting dan menggambar
Sumber: http://specialneedskid.wordpress.com/
1. Terlambat bicara disbanding dengan anak seusianya
2. Memiliki kesulitan dalam pengucapan beberapa kata
3. Dibanding anak seusianya, penguasaan jumlah katanya lebih sedikit (terbatas)
4. Sering tidak mampu menemukan kata yang sesuai untuk satu kalimat yang akan dikemukakan
5. Sulit mempelajari dan mengenali angka, huruf dan nama-nama hari
6. Sulit merangkai kata untuk menjadi sebuah kalimat
7. Sering gelisah yang berlebihan
8. Mudah terganggu konsentrasinya
9. Sulit berinteraksi dengan teman seusianya
10. Sulit mengikuti instruksi yang diberikan untuknya
11. Sulit mengikuti rutinitas tertentu
12. Menghindari tugas-tugas tertentu, misalnya menggunting dan menggambar
Sumber: http://specialneedskid.wordpress.com/
MENGENAL ANAK BERKESULITAN BELAJAR: bab 1
Setiap anak adalah pribadi yang unik, begitu pula dengan anak berkesulitan belajar. Walau mereka memiliki jenis kesulitan yang sama, mereka tentu punya kelebihan ataupun kekurangan yang berbeda satu dengan yang lain.
Bagi orangtua, anak adalah sebuah representasi keberhasilan keluarganya. Karena itu, keberhasilan dalam belajar anaknya merupakan salah satu faktor penting dan diharapkan. Keberhasilan belajar anaknya akan mampu mengembangkan konsep diri yang positif bagi sang anak, selanjutnya akan sangat berguna di kemudian hari. Namun, bagi beberapa anak-anak berkesulitan belajar proses belajar tidaklah mudah, mereka memiliki kendala yang datang dari dalam dirinya.Kesulitan belajar atau gangguan belajar (learning disorder, LD) adalah gangguan belajar pada anak yang ditandai dengan adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensi dengan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai. Anak berkesulitan belajar adalah salah satu dari mereka yang berada dalam kelompok anak berkebutuhan khusus (children with special needs). Mereka adalah anak yang memiliki disfungsi minimum otak (DMO), sehingga menyebabkan tercampur aduk-nya sinyal-sinyal di antara indera otaknya atau terjadi gangguan di dalam sistem saraf pusat otak (neurobiologist) yang menimbulkan gangguan berbagai perkembangan, misalnya gangguan berbicara, berbahasa serta kemampuan akademik.
Anak-anak ini mengalami kesulitan bila harus belajar secara ‘biasa’ seperti halnya anak-anak yang lain. Mereka perlu diarahkan bagaimana cara belajar bagi dirinya, bagaimana memulai dengan suatu tugas, bagaimana mengarahkan perhatian, mengamati, mendengarkan instruksi bahkan bagaimana mengarahkan beberapa proses pada saat yang bersamaan. Singkat kata, mereka memerlukan pendekatan penanganan yang beda dengan pendekatan yang biasa dilakukan anak-anak lain seusianya.Bila tidak ditangani dengan baik dan benar, mereka akan mengalami gangguan emosional (psikiatrik) dan akan berdampak buruk bagi perkembangan kualitas hidup anak di kemudian hari. Anak berkesulitan belajar, biasanya tampil kurang dewasa dibanding teman-teman seusianya dan kesulitan belajar ini juga mempengaruhi koordinasi fisik dan perkembangan emosional anak. Selain itu, anak berkesulitan belajar sulit memahami isyarat-isyarat sosial yang ada dalam kehidupan bermasyarakat.
Akibatnya, mereka terlihat seperti mempunyai kebiasaan sosial yang berbeda dengan lingkungannya. Tentu saja, hal ini membuat masyarakat di lingkungannya sulit untuk menerima, bahkan akan cenderung mengucilkannya. Secara umum, penanganan anak-anak berkesulitan belajar memiliki tujuan untuk membangkitkan kesadaran tentang dirinya, kemudian mengembangkan kelebihan dan meminimalkan kesulitan/kekurangan dalam dirinya. Dan, ini yang penting, menga-rahkannya untuk dapat mencari jalan keluar (solusi) dari permasalahan yang akan dihadapi nanti untuk menjadi seseorang yang mandiri.Untuk menangani anak berkesulitan belajar diperlukan kerjasama yang baik dan positif antara orangtua (terutama), guru di sekolahnya dan beberapa profesional seperti dokter anak, psikiater anak, psikolog, terapis.
Diperlukan upaya serius dan berkesinambungan untuk melaksanakan penanganan anak berkesulitan belajar. Anak-anak berkesulitan belajar, biasanya merasa frustrasi karena sering mengalami kegagalan dalam menyelesaikan tugas atau pun langkah-langkah untuk diri sendiri. Dalam benak mereka, apa pun yang dilakukan selalu sia-sia, tak ada artinya, negatif dan lain sebagainya, pada intinya adalah selalu mengalami kegagalan. Tentu saja, kondisi semacam ini menjadi kontra produktif, mereka kemudian menjadi sensitif, tidak mudah untuk percaya pada orang lain bahkan (mungkin) terhadap orang yang paling dekat dengan dirinya, dalam hal ini adalah orangtua. Untuk mengetahui apakah seorang anak memiliki kecenderungan berkesulitan belajar diperlukan pendeteksian yang cermat.
Bagi orangtua, anak adalah sebuah representasi keberhasilan keluarganya. Karena itu, keberhasilan dalam belajar anaknya merupakan salah satu faktor penting dan diharapkan. Keberhasilan belajar anaknya akan mampu mengembangkan konsep diri yang positif bagi sang anak, selanjutnya akan sangat berguna di kemudian hari. Namun, bagi beberapa anak-anak berkesulitan belajar proses belajar tidaklah mudah, mereka memiliki kendala yang datang dari dalam dirinya.Kesulitan belajar atau gangguan belajar (learning disorder, LD) adalah gangguan belajar pada anak yang ditandai dengan adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensi dengan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai. Anak berkesulitan belajar adalah salah satu dari mereka yang berada dalam kelompok anak berkebutuhan khusus (children with special needs). Mereka adalah anak yang memiliki disfungsi minimum otak (DMO), sehingga menyebabkan tercampur aduk-nya sinyal-sinyal di antara indera otaknya atau terjadi gangguan di dalam sistem saraf pusat otak (neurobiologist) yang menimbulkan gangguan berbagai perkembangan, misalnya gangguan berbicara, berbahasa serta kemampuan akademik.
Anak-anak ini mengalami kesulitan bila harus belajar secara ‘biasa’ seperti halnya anak-anak yang lain. Mereka perlu diarahkan bagaimana cara belajar bagi dirinya, bagaimana memulai dengan suatu tugas, bagaimana mengarahkan perhatian, mengamati, mendengarkan instruksi bahkan bagaimana mengarahkan beberapa proses pada saat yang bersamaan. Singkat kata, mereka memerlukan pendekatan penanganan yang beda dengan pendekatan yang biasa dilakukan anak-anak lain seusianya.Bila tidak ditangani dengan baik dan benar, mereka akan mengalami gangguan emosional (psikiatrik) dan akan berdampak buruk bagi perkembangan kualitas hidup anak di kemudian hari. Anak berkesulitan belajar, biasanya tampil kurang dewasa dibanding teman-teman seusianya dan kesulitan belajar ini juga mempengaruhi koordinasi fisik dan perkembangan emosional anak. Selain itu, anak berkesulitan belajar sulit memahami isyarat-isyarat sosial yang ada dalam kehidupan bermasyarakat.
Akibatnya, mereka terlihat seperti mempunyai kebiasaan sosial yang berbeda dengan lingkungannya. Tentu saja, hal ini membuat masyarakat di lingkungannya sulit untuk menerima, bahkan akan cenderung mengucilkannya. Secara umum, penanganan anak-anak berkesulitan belajar memiliki tujuan untuk membangkitkan kesadaran tentang dirinya, kemudian mengembangkan kelebihan dan meminimalkan kesulitan/kekurangan dalam dirinya. Dan, ini yang penting, menga-rahkannya untuk dapat mencari jalan keluar (solusi) dari permasalahan yang akan dihadapi nanti untuk menjadi seseorang yang mandiri.Untuk menangani anak berkesulitan belajar diperlukan kerjasama yang baik dan positif antara orangtua (terutama), guru di sekolahnya dan beberapa profesional seperti dokter anak, psikiater anak, psikolog, terapis.
Diperlukan upaya serius dan berkesinambungan untuk melaksanakan penanganan anak berkesulitan belajar. Anak-anak berkesulitan belajar, biasanya merasa frustrasi karena sering mengalami kegagalan dalam menyelesaikan tugas atau pun langkah-langkah untuk diri sendiri. Dalam benak mereka, apa pun yang dilakukan selalu sia-sia, tak ada artinya, negatif dan lain sebagainya, pada intinya adalah selalu mengalami kegagalan. Tentu saja, kondisi semacam ini menjadi kontra produktif, mereka kemudian menjadi sensitif, tidak mudah untuk percaya pada orang lain bahkan (mungkin) terhadap orang yang paling dekat dengan dirinya, dalam hal ini adalah orangtua. Untuk mengetahui apakah seorang anak memiliki kecenderungan berkesulitan belajar diperlukan pendeteksian yang cermat.
Jenny McCarthy: hari aku mendengar anakku autis
Jenny McCarthy adalah seorang aktris dan penulis buku baru "Louder Than Words: A Mother's Journey in Healing Autism" (Dutton).
Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan putra saya Evan. Suatu hari ia benar-benar sehat 2 tahun dan berikutnya ia terus kejang yang mengancam jiwa memiliki.
Aktris Jenny McCarthy rincian pertempuran anaknya dengan autisme dalam sebuah buku baru.
Tak terhitung dokter dan rumah sakit tidak bisa sampai ke bawah, dan tidak ada yang bisa mengetahui diagnosis yang tepat. Kami terus mencoba berbagai obat anti-kejang, tapi mereka baik buatan Evan bertindak psikotik atau seperti zombie. Akhirnya, aku ada janji untuk melihat ahli saraf pediatrik terbaik di Los Angeles.
Aku sudah lebih gugup di kantor dokter. Jantungku berdegup begitu keras bahwa saya yakin Evan pikir itu drum di kamar sebelah.
Ketika pintu terbuka dan seorang pria tua manis masuk, saya langsung merasa baik. Aku mulai bercerita tentang semua aktivitas kejang dan apa yang telah dikatakan sejauh ini tentang Evan. Dia mendengarkan dengan cermat tapi matanya pada Evan sepanjang waktu. Aku tahu dia sedang mengevaluasi Evan dan perilaku aneh itu.
Dia bertanya padaku beberapa pertanyaan dan tampak sangat damai tentang semuanya. Aku mulai merasa lebih rileks ketika dia bermain dengan Evan, dan kemudian ia berdiri dan membuka pintu kantornya dan mengatakan kepada sekretarisnya untuk membatalkan janji berikutnya. Saya berpikir, "Wow, dia benar-benar harus seperti kita. Ini adalah beberapa perawatan VIP besar. "
Dia menutup pintu dan menarik kursinya ke dekat tambang dan meletakkan tangannya di tanganku. Dia menatapku dengan mata sedih dan berkata, "Maaf, anak Anda telah autisme."
Aku hanya menatap dokter sambil mengingat semua tanda-tanda yang mengarah ke saat ini. Aku merasa setiap membran dan pembuluh darah di hati saya pecah menjadi satu juta keping. Tidak ada yang mempersiapkan saya untuk ini. Aku tak bisa bernapas. Aku ingin itu pergi. Saya telah melalui begitu banyak dengan kejang dan reaksi terhadap obat-obatan psikotik. Aku menatap dokter dengan memohon, mata menangis, "ini tidak dapat. Dia sangat mencintai dan manis dan tidak apa-apa seperti 'Rain Man'. "
"Setiap anak berbeda," katanya. "Ada yang tidak parah yang lain."
"Aku tidak mengerti. Bagaimana mungkin? Bagaimana Anda bisa tahu hanya dalam beberapa menit? "
Dia menatapku dan kemudian menunjuk apa yang telah dibuat Evan di sudut. Evan telah kerucut telinga yang mereka gunakan untuk melihat ke dalam telinga Anda dan membuat baris berbaris paling sempurna di seluruh ruangan.
"Apakah dia mainan berbaris di rumah bukannya bermain dengan mereka?" Tanyanya.
"Ya, tapi tidak semua anak-anak melakukan itu?"
"Tidak, tidak semua," katanya. "Dan mereka semua tidak flap lengan mereka seperti itu baik."
Aku menatap Evan dan melihat bahwa ia "mengepakkan sayap" kataku, ". Oh, tidak, dia hanya tidak bahwa kalau dia bersemangat."
"Itu disebut Stim," kata dia.
"Apa?"
"Stim A. Perilaku stimulasi diri. Ini merupakan ciri autistik, "katanya.
Aku menatap Evan dan melihat dia mengepakkan dan sekali lagi telah hati saya hancur. Aku selalu melihatnya seperti karakteristik Evan adorable, so cute dan unik yang saya bahkan menyebutnya burung kecilku.
Aku hampir merasa dikhianati, seperti aku tidak tahu ini anak berdiri di depanku. Semuanya saya pikir lucu adalah tanda autis dan saya merasa ditipu. Saya kira dokter merasakan ini dari saya karena ia menoleh kembali ke arahnya dan berkata, "Dia masih anak yang sama Anda datang ke sini dengan."
Tidak, di mata saya dia tidak. Ini bukan Evan. Evan terkunci di dalam label ini, dan aku tidak tahu apakah saya akan pernah bisa tahu siapa Evan sebenarnya. Semua perilaku saya kira ciri-ciri kepribadian adalah karakteristik autisme, dan hanya itu yang saya miliki. Di mana anak saya, dan bagaimana sih cara mendapatkan kembali?
Aku berubah menjadi seorang detektif, dan terima kasih untuk satu ton riset Google, dukungan dari UCLA dan DAN saya! (Kekalahan autism Sekarang dokter), aku menemukan perawatan yang bekerja untuk Evan.
Evan sekarang 5 tahun dan mampu berkomunikasi sepenuhnya. Karena kita bisa berbicara, saya menanyakan pertanyaan yang aku begitu sangat ingin tahu jawaban untuk selama krisis. Ketika saya bertanya mengapa dia flaps pelukannya, dia menjawab, "Karena aku begitu bersemangat dan kemudian saya terbang sama seperti malaikat lakukan."
Tidak semua anak autis akan dapat membuat lompatan seperti Evan. Beberapa orang tua telah bekerja lebih lama dan lebih keras daripada yang saya miliki, tanpa hasil, mencoba hal yang sama persis.
Aku tidak tahu mengapa beberapa perlakuan bekerja pada beberapa anak-anak dan bukan pada orang lain. Tapi aku mohon ayah dan ibu untuk setidaknya mencoba. Aku akan bekerja pantatku off meningkatkan kesadaran untuk autisme dan memukul-mukul ke pintu untuk mendapatkan jawaban.
Sementara itu, jangan putus asa dan ingat bahwa penerimaan terhadap kondisi anak Anda bukan berarti menyerah, melainkan hanya cukup mencintai anak Anda untuk menjadi jiwa kecil yang sempurna dia atau dia.
Itulah pergeseran saya alami sebelum penyembuhan Evan bahkan mulai. Iman adalah apa yang membuatku terus bergerak maju.
Sumber: http://specialneedskid.wordpress.com/
Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan putra saya Evan. Suatu hari ia benar-benar sehat 2 tahun dan berikutnya ia terus kejang yang mengancam jiwa memiliki.
Aktris Jenny McCarthy rincian pertempuran anaknya dengan autisme dalam sebuah buku baru.
Tak terhitung dokter dan rumah sakit tidak bisa sampai ke bawah, dan tidak ada yang bisa mengetahui diagnosis yang tepat. Kami terus mencoba berbagai obat anti-kejang, tapi mereka baik buatan Evan bertindak psikotik atau seperti zombie. Akhirnya, aku ada janji untuk melihat ahli saraf pediatrik terbaik di Los Angeles.
Aku sudah lebih gugup di kantor dokter. Jantungku berdegup begitu keras bahwa saya yakin Evan pikir itu drum di kamar sebelah.
Ketika pintu terbuka dan seorang pria tua manis masuk, saya langsung merasa baik. Aku mulai bercerita tentang semua aktivitas kejang dan apa yang telah dikatakan sejauh ini tentang Evan. Dia mendengarkan dengan cermat tapi matanya pada Evan sepanjang waktu. Aku tahu dia sedang mengevaluasi Evan dan perilaku aneh itu.
Dia bertanya padaku beberapa pertanyaan dan tampak sangat damai tentang semuanya. Aku mulai merasa lebih rileks ketika dia bermain dengan Evan, dan kemudian ia berdiri dan membuka pintu kantornya dan mengatakan kepada sekretarisnya untuk membatalkan janji berikutnya. Saya berpikir, "Wow, dia benar-benar harus seperti kita. Ini adalah beberapa perawatan VIP besar. "
Dia menutup pintu dan menarik kursinya ke dekat tambang dan meletakkan tangannya di tanganku. Dia menatapku dengan mata sedih dan berkata, "Maaf, anak Anda telah autisme."
Aku hanya menatap dokter sambil mengingat semua tanda-tanda yang mengarah ke saat ini. Aku merasa setiap membran dan pembuluh darah di hati saya pecah menjadi satu juta keping. Tidak ada yang mempersiapkan saya untuk ini. Aku tak bisa bernapas. Aku ingin itu pergi. Saya telah melalui begitu banyak dengan kejang dan reaksi terhadap obat-obatan psikotik. Aku menatap dokter dengan memohon, mata menangis, "ini tidak dapat. Dia sangat mencintai dan manis dan tidak apa-apa seperti 'Rain Man'. "
"Setiap anak berbeda," katanya. "Ada yang tidak parah yang lain."
"Aku tidak mengerti. Bagaimana mungkin? Bagaimana Anda bisa tahu hanya dalam beberapa menit? "
Dia menatapku dan kemudian menunjuk apa yang telah dibuat Evan di sudut. Evan telah kerucut telinga yang mereka gunakan untuk melihat ke dalam telinga Anda dan membuat baris berbaris paling sempurna di seluruh ruangan.
"Apakah dia mainan berbaris di rumah bukannya bermain dengan mereka?" Tanyanya.
"Ya, tapi tidak semua anak-anak melakukan itu?"
"Tidak, tidak semua," katanya. "Dan mereka semua tidak flap lengan mereka seperti itu baik."
Aku menatap Evan dan melihat bahwa ia "mengepakkan sayap" kataku, ". Oh, tidak, dia hanya tidak bahwa kalau dia bersemangat."
"Itu disebut Stim," kata dia.
"Apa?"
"Stim A. Perilaku stimulasi diri. Ini merupakan ciri autistik, "katanya.
Aku menatap Evan dan melihat dia mengepakkan dan sekali lagi telah hati saya hancur. Aku selalu melihatnya seperti karakteristik Evan adorable, so cute dan unik yang saya bahkan menyebutnya burung kecilku.
Aku hampir merasa dikhianati, seperti aku tidak tahu ini anak berdiri di depanku. Semuanya saya pikir lucu adalah tanda autis dan saya merasa ditipu. Saya kira dokter merasakan ini dari saya karena ia menoleh kembali ke arahnya dan berkata, "Dia masih anak yang sama Anda datang ke sini dengan."
Tidak, di mata saya dia tidak. Ini bukan Evan. Evan terkunci di dalam label ini, dan aku tidak tahu apakah saya akan pernah bisa tahu siapa Evan sebenarnya. Semua perilaku saya kira ciri-ciri kepribadian adalah karakteristik autisme, dan hanya itu yang saya miliki. Di mana anak saya, dan bagaimana sih cara mendapatkan kembali?
Aku berubah menjadi seorang detektif, dan terima kasih untuk satu ton riset Google, dukungan dari UCLA dan DAN saya! (Kekalahan autism Sekarang dokter), aku menemukan perawatan yang bekerja untuk Evan.
Evan sekarang 5 tahun dan mampu berkomunikasi sepenuhnya. Karena kita bisa berbicara, saya menanyakan pertanyaan yang aku begitu sangat ingin tahu jawaban untuk selama krisis. Ketika saya bertanya mengapa dia flaps pelukannya, dia menjawab, "Karena aku begitu bersemangat dan kemudian saya terbang sama seperti malaikat lakukan."
Tidak semua anak autis akan dapat membuat lompatan seperti Evan. Beberapa orang tua telah bekerja lebih lama dan lebih keras daripada yang saya miliki, tanpa hasil, mencoba hal yang sama persis.
Aku tidak tahu mengapa beberapa perlakuan bekerja pada beberapa anak-anak dan bukan pada orang lain. Tapi aku mohon ayah dan ibu untuk setidaknya mencoba. Aku akan bekerja pantatku off meningkatkan kesadaran untuk autisme dan memukul-mukul ke pintu untuk mendapatkan jawaban.
Sementara itu, jangan putus asa dan ingat bahwa penerimaan terhadap kondisi anak Anda bukan berarti menyerah, melainkan hanya cukup mencintai anak Anda untuk menjadi jiwa kecil yang sempurna dia atau dia.
Itulah pergeseran saya alami sebelum penyembuhan Evan bahkan mulai. Iman adalah apa yang membuatku terus bergerak maju.
Sumber: http://specialneedskid.wordpress.com/
Sekolah Inklusi, Masih Hitungan Jari
Selama ini, sekolah anak-anak “normal” dengan special need selalu terpisah. Lazuardi-GIS salah satu pionir yang membuat terobosan untuk mengatasi persoalan tersebut. Russanti Lubis
Tahukan Anda, bila dalam setiap 150 kelahiran, salah satunya adalah bayi pengidap autis? Jumlah ini tidak termasuk bayi-bayi yang dilahirkan dengan membawa “kelainan-kelainan” lain, seperti hiperaktif, AD/HD, learning differences/difficulties, down syndrome, dan sebagainya (termasuk juga tunadaksa, tunagrahita, tunaru-ngu, dan lain-lain). Jadi, dapat Anda bayangkan berapa banyak jumlah mereka.
Lalu, setelah mereka memasuki usia sekolah, ke mana mereka menimba ilmu? Tentu saja apa yang disebut dengan sekolah luar biasa, di mana mereka akan bergaul dengan teman-teman senasib. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa mereka yang dulu disebut sebagai anak cacat ini (untuk menghindari konotasi negatif, kini mereka disebut sebagai special need atau yang membutuhkan perlakuan khusus, red.) berhak berada di lingkungan pergaulan yang lebih riil. Karena, pertama, di dunia kerja yang akan mereka jalani, mereka tidak hanya berkumpul dengan orang-orang yang special need. Kedua, mereka terbukti jauh lebih mampu mengembangkan potensi, jika mereka bergaul dengan anak-anak “normal”.
“Berdasarkan alasan ini, orang mulai berpikir tentang sekolah inklusi,” kata Haidar Bagir, pendiri dan pemilik sekolah inklusi, Lazuardi-GIS (Global Islamic School). Sekadar informasi, GIS merujuk pada sifat sekolah ini yaitu sekolah yang berorentasi global dan berlandaskan Islam tapi terbuka untuk umum, sedangkan nama sekolahnya adalah Lazuardi. “Untuk menghindari kerancuan dengan sekolah-sekolah global lain, kami lebih suka menyebutnya GIS,” jelasnya.
Di Indonesia, ia melanjutkan, sekolah inklusi masih dapat dihitung de-ngan jari. “Dan, sekolah kami salah satunya. Bahkan, boleh dikatakan, Lazuardi-GIS yang paling serius menangani pendidikan anak-anak special need. Misalnya, kami memiliki 25 terapis yang dididik secara khusus. Kami juga memiliki 100 guru alumni berbagai universitas di Indonesia yang mempunyai pengetahuan tentang anak-anak special need. Di luar itu, Lazuardi-GIS juga memiliki pusat te-rapi khusus,” ujarnya.
Sebagai sekolah inklusi, Lazuardi-GIS yang berdiri sejak tahun 2000 di atas lahan seluas hampir 3 ha di kawasan Cinere ini, menempatkan anak-anak “normal” dengan yang special need dalam satu kelas. Khusus untuk anak-anak yang memiliki special need cukup besar, disediakan terapis. Karena itu, di setiap kelas (1 sampai dengan 6) terdapat dua guru dan se-orang terapis, yang bertanggung jawab di bawah kordinasi sang guru untuk memberi perlakuan khusus kepada anak-anak special need, sehingga mereka dapat mengikuti pelajaran dengan baik.
“Tentu saja porsi belajar anak-anak special need lebih kecil daripada yang ‘normal’. Bukan membatasi, melainkan kebutuhan akan terapi. Pada waktu-waktu tertentu, bila perlu, anak-anak itu akan ‘ditarik’ dari kelas reguler dan dibawa ke Ruang Pelangi yaitu ruang kelas untuk terapi wicara dan terapi-terapi lain. Kalau masih diperlukan lagi, di luar jam sekolah, mereka diki-rim ke pusat Sekolah Lazuarditerapi khusus. Karena itu, dalam satu kelas hanya ditempatkan dua anak special need,” katanya.
Namun, ia melanjutkan, tidak lagi menjadi special need setelah menjalani pendidikan di sekolah inklusi, jarang terjadi. Sebab, tujuannya yaitu menjadikan mereka bisa hidup mandiri, bergaul, dan diterima masyarakat. “Untuk yang semacam itu, Insya Allah bisa kami lakukan. Yang jelas, orang tua mereka mengakui bahwa kemampuan buah hati mereka meningkat sa-ngat pesat,” ucapnya.
Selain itu, special need beraneka macam dan memiliki tingkatan dari ringan hingga berat. “Jadi, tergantung pada itulah apakah nantinya mereka mampu atau tidak mampu melanjutkan ke SMP biasa usai lulus dari SD sekolah inklusi. Beberapa contoh kasus menunjukkan bahwa semakin mereka dewasa, mereka hampir tidak lagi memiliki handicap untuk bersekolah seperti anak-anak ‘normal’. Tapi, itu bila mereka terus-menerus menda-patkan terapi intensif baik di dalam maupun di luar sekolah. Jadi, semuanya tergantung pada banyak faktor, apakah mereka dapat langsung dilepas dan menjadi mandiri sepenuhnya atau mempunyai tingkat kemandirian tertentu dan masih memerlukan bantuan,” imbuhnya.
Sekolah yang menggunakan dua bahasa dan mempadupadankan kurikulum nasional dengan kurikulum berbagai negara ini, kini memiliki 1.000 murid dengan 50 di antaranya siswa special need. Kepada mereka yang akan masuk SD dibebankan uang masuk Rp20 juta dan SPP Rp500 ribu. Selain itu, juga menerima anak special need berasal dari keluarga tak mampu. Karena, sekolah terakreditasi yang dibangun dengan total modal Rp17 milyar–Rp20 milyar ini, memiliki program beasiswa. “Tidak ada persyaratan khusus untuk menjadi murid Lazuardi-GIS. Tidak ada tes. Prinsip kami first in first serve sesuai dengan paradigma yang kami yakini bahwa semua anak cerdas dan tugas sekolah untuk mengembangkan potensi mereka. Kami hanya memiliki sistem observasi agar kami memiliki informasi yang cukup tentang setiap siswa kami, sehingga kami dapat memberikan pelayanan maksimal,” ujarnya.
Ke depannya, ia menambahkan, ingin mengembangkan Lazuardi-GIS sampai college. Selain itu, akan mengembangkan franchise dengan tujuan agar secara finansial makin kokoh dan bisa memberikan sumbang-an pendidikan bagi negeri ini. Saat ini, Lazuardi-GIS telah memiliki cabang di Jakarta Barat (Lazuardi Cordova), Lampung (Lazuardi Haura), Depok (Bina Qair, binaan), dan Kalimantan.
Sumber: Majalah Pengusaha - Referensi Usaha Anda
Tahukan Anda, bila dalam setiap 150 kelahiran, salah satunya adalah bayi pengidap autis? Jumlah ini tidak termasuk bayi-bayi yang dilahirkan dengan membawa “kelainan-kelainan” lain, seperti hiperaktif, AD/HD, learning differences/difficulties, down syndrome, dan sebagainya (termasuk juga tunadaksa, tunagrahita, tunaru-ngu, dan lain-lain). Jadi, dapat Anda bayangkan berapa banyak jumlah mereka.
Lalu, setelah mereka memasuki usia sekolah, ke mana mereka menimba ilmu? Tentu saja apa yang disebut dengan sekolah luar biasa, di mana mereka akan bergaul dengan teman-teman senasib. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa mereka yang dulu disebut sebagai anak cacat ini (untuk menghindari konotasi negatif, kini mereka disebut sebagai special need atau yang membutuhkan perlakuan khusus, red.) berhak berada di lingkungan pergaulan yang lebih riil. Karena, pertama, di dunia kerja yang akan mereka jalani, mereka tidak hanya berkumpul dengan orang-orang yang special need. Kedua, mereka terbukti jauh lebih mampu mengembangkan potensi, jika mereka bergaul dengan anak-anak “normal”.
“Berdasarkan alasan ini, orang mulai berpikir tentang sekolah inklusi,” kata Haidar Bagir, pendiri dan pemilik sekolah inklusi, Lazuardi-GIS (Global Islamic School). Sekadar informasi, GIS merujuk pada sifat sekolah ini yaitu sekolah yang berorentasi global dan berlandaskan Islam tapi terbuka untuk umum, sedangkan nama sekolahnya adalah Lazuardi. “Untuk menghindari kerancuan dengan sekolah-sekolah global lain, kami lebih suka menyebutnya GIS,” jelasnya.
Di Indonesia, ia melanjutkan, sekolah inklusi masih dapat dihitung de-ngan jari. “Dan, sekolah kami salah satunya. Bahkan, boleh dikatakan, Lazuardi-GIS yang paling serius menangani pendidikan anak-anak special need. Misalnya, kami memiliki 25 terapis yang dididik secara khusus. Kami juga memiliki 100 guru alumni berbagai universitas di Indonesia yang mempunyai pengetahuan tentang anak-anak special need. Di luar itu, Lazuardi-GIS juga memiliki pusat te-rapi khusus,” ujarnya.
Sebagai sekolah inklusi, Lazuardi-GIS yang berdiri sejak tahun 2000 di atas lahan seluas hampir 3 ha di kawasan Cinere ini, menempatkan anak-anak “normal” dengan yang special need dalam satu kelas. Khusus untuk anak-anak yang memiliki special need cukup besar, disediakan terapis. Karena itu, di setiap kelas (1 sampai dengan 6) terdapat dua guru dan se-orang terapis, yang bertanggung jawab di bawah kordinasi sang guru untuk memberi perlakuan khusus kepada anak-anak special need, sehingga mereka dapat mengikuti pelajaran dengan baik.
“Tentu saja porsi belajar anak-anak special need lebih kecil daripada yang ‘normal’. Bukan membatasi, melainkan kebutuhan akan terapi. Pada waktu-waktu tertentu, bila perlu, anak-anak itu akan ‘ditarik’ dari kelas reguler dan dibawa ke Ruang Pelangi yaitu ruang kelas untuk terapi wicara dan terapi-terapi lain. Kalau masih diperlukan lagi, di luar jam sekolah, mereka diki-rim ke pusat Sekolah Lazuarditerapi khusus. Karena itu, dalam satu kelas hanya ditempatkan dua anak special need,” katanya.
Namun, ia melanjutkan, tidak lagi menjadi special need setelah menjalani pendidikan di sekolah inklusi, jarang terjadi. Sebab, tujuannya yaitu menjadikan mereka bisa hidup mandiri, bergaul, dan diterima masyarakat. “Untuk yang semacam itu, Insya Allah bisa kami lakukan. Yang jelas, orang tua mereka mengakui bahwa kemampuan buah hati mereka meningkat sa-ngat pesat,” ucapnya.
Selain itu, special need beraneka macam dan memiliki tingkatan dari ringan hingga berat. “Jadi, tergantung pada itulah apakah nantinya mereka mampu atau tidak mampu melanjutkan ke SMP biasa usai lulus dari SD sekolah inklusi. Beberapa contoh kasus menunjukkan bahwa semakin mereka dewasa, mereka hampir tidak lagi memiliki handicap untuk bersekolah seperti anak-anak ‘normal’. Tapi, itu bila mereka terus-menerus menda-patkan terapi intensif baik di dalam maupun di luar sekolah. Jadi, semuanya tergantung pada banyak faktor, apakah mereka dapat langsung dilepas dan menjadi mandiri sepenuhnya atau mempunyai tingkat kemandirian tertentu dan masih memerlukan bantuan,” imbuhnya.
Sekolah yang menggunakan dua bahasa dan mempadupadankan kurikulum nasional dengan kurikulum berbagai negara ini, kini memiliki 1.000 murid dengan 50 di antaranya siswa special need. Kepada mereka yang akan masuk SD dibebankan uang masuk Rp20 juta dan SPP Rp500 ribu. Selain itu, juga menerima anak special need berasal dari keluarga tak mampu. Karena, sekolah terakreditasi yang dibangun dengan total modal Rp17 milyar–Rp20 milyar ini, memiliki program beasiswa. “Tidak ada persyaratan khusus untuk menjadi murid Lazuardi-GIS. Tidak ada tes. Prinsip kami first in first serve sesuai dengan paradigma yang kami yakini bahwa semua anak cerdas dan tugas sekolah untuk mengembangkan potensi mereka. Kami hanya memiliki sistem observasi agar kami memiliki informasi yang cukup tentang setiap siswa kami, sehingga kami dapat memberikan pelayanan maksimal,” ujarnya.
Ke depannya, ia menambahkan, ingin mengembangkan Lazuardi-GIS sampai college. Selain itu, akan mengembangkan franchise dengan tujuan agar secara finansial makin kokoh dan bisa memberikan sumbang-an pendidikan bagi negeri ini. Saat ini, Lazuardi-GIS telah memiliki cabang di Jakarta Barat (Lazuardi Cordova), Lampung (Lazuardi Haura), Depok (Bina Qair, binaan), dan Kalimantan.
Sumber: Majalah Pengusaha - Referensi Usaha Anda
Langganan:
Postingan (Atom)